Welcome My Blog Village


Diskusi Publik Mengenai Pinisi

Sabtu 25 Agustus 2012 bertempat di tanah kelahiran kapal pinisi yakni di desa Ara, kec. Bontobahari, forum pemerhati Ara-Lembanna melaksanakan diskusi publik mengenai pinisi dengan tema “ Pinisi : Sejarah, Budaya, dan Kesejahteraan Masyarakat

leang passea aset besar yang terabaikan

Leang (Gua) Passea di Kampung Ara, Kabupaten Bulukumba, adalah salah satu situs pekuburan kuno di Sulawesi. Di dalamnya, peti-peti mati yang dahulu tergantung di dinding gua, kini berserakan tak karuan bercampur tulang-belulang dan pecahan keramik kuno. .

Monumen Mandala Harusnya di Desa Ara, Bukan di Makassar

Monumen ini sepantasnya berada di Desa ara, pertanyaan selanjutanya kenapa desa Ara dianngap pantas menjadi tempat monumen mandala pembebasan Irian Barat.

KEPMA Ara-Lembanna Tolak Pembangunan Pabrik Peleburan Biji Besi Di Ara

Sejumlah mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam kerukunan pelajar dan mahasiswa Ara-Lembanna melakukan aksi di depan kantor Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, mereka menenolak pembangunan pabrik peleburan biji besi, hari ini, Senin (9/4/2012)..

Foto-foto Pinisi Karya Orang Ara.

Selasa, 17 Juli 2012

Di Ara-Lembanna menjamur Bank Pinjaman Independen (dengan bunga yang tinggi)


Kita harus akui bahwa perputaran uang di Ara-Lembanna sudah bisa di kategorikan sangat tinggi untuk sekelas desa yang ada di bulukumba. Masyarakat luar pun sering mengatakan bahwa masyarakat Ara-Lembanna banyak orang kayanya. Dalam kurung waktu 10 tahun terakhir pembangunan di Ara-Lembanna berkembang sangat pesat, ini terbukti dengan banyaknya bermunculan rumah-rumah yang tergolong modern dan kendaraan roda 2 dan roda 4 semakin banyak. Menurut awan mahasiswa asal ara “hampir setiap rumah di ara mempunyai 2 motor.” Menurut dia perkembangan ekonomi di Ara-Lembanna berkat usaha gorden dan mebungakan uang (meminjamkan uang dengan bunga yang tinggi).


Peningkatan ekonomi di Ara-Lembanna memang diwarnai proses yang tidak sehat yakni banyaknya masyarakat yang membuat bank pinjaman independen yang menentukan sendiri bunganya. Menurut seorang ibu-ibu asal Ara masyarakat yang meminjamkan uang sudah melebihi 20 orang. Para masyarakat yang meminjamkan uang mematok bunga dari 4% sampai 8% perbulan . Bunga yang di tentukan ini sangat jauh dari bunga yang ditentukan syariat islam, yakni 0, sekian %. Selain bunga yang tinggi para masyarakat yang meminjamkan uang tidak menerima uang pokok dalam bentuk cicilan, yadi uang pokok yang dipinjam harus kembali dengan full.

Para masyarakat yang meminjamkan uang dan peminjam uang biasanya di urus oleh ibu-ibu. Yang paling parah adalah, kebanyakan yang meminjamkan uang adalah haji yang notabennya sangat melanggar syariat agama islam.

Pinjaman biasanya dari ratusan ribu hingga mencapai ratusan juta rupiah. Para masyarakat Ara-Lembanna biasanya meminjam uang untuk modal usaha dan untuk biaya pesta pernikahan. Anehnya lagi sudah banyak masyarakat yang rusak akibat pinjaman uang berbunga, tapi masih banyak juga yang meminjam uang yang berbunga. Orang Ara biasanya berkata panraq I napakua inrang a”bakka (hancur karena uang berbunga). Peminjaman uang yang besar juga karena gensi masyarakat Ara-Lembanna yang tinggi.

Kejadian ini sungguh sangat menyedihakan karena sebagai warga desa Ara-Lembanna yang satu rumpun seharusnya antara yang memiliki uang berlebih membantu masyarakat yang membutuhkan uang. Dalam agama pun telah mengatur tentang utang piutang yakni firman Allah “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245).

Minggu, 08 Juli 2012

± 95 % Calon Mahasiswa Asal Ara-Lembanna tidak lulus SNMPTN 2012


Jumat 06 juni 2012 malam 20.00 WITA bertempat di BTN Minasa Upa blok AB kami mahasiswa Ara-Lembanna sibuk menghubungi calon mahasiswa yang berasal dari Ara-Lembanna untuk mengirimkan no tes serta tanggal lahirnya, karena kami akan mengecek kelulusan mereka.

Sebelumnya kami telah membeli koran Identitas Unhas dan Koran profesi UNM serta telah menyiapkan 3 laptop lengkap dengan modemnya untuk pengecekan secara online.

Dengan cepat pun para calon mahasiswa mengirim no tes dan tanggal lahirnya. Kami juga dengan cepat memeriksa no tes yang telah di terima.

Setelah tiga jam lebih kami memeriksa no tes ±30 orang di laman resmi SNMPTN 2012 kami hanya mendapat satu jenis tampilan yakni

MOHON MAAF, PESERTA ATAS NAMA ……… DENGAN NOMOR PESERTA ……….
DINYATAKAN TIDAK DITERIMA PADA SNMPTN 2012 JALUR UJIAN TERTULIS

Kami berani mengambil keputusan bahwa ± 95 % Calon Mahasiswa Asal Ara-Lembanna tidak lulus karena kami telah maksimalkan menghubungi semua calon mahasiswa dan hasilnya itu semua sama. Kami pun berani mengatakan bahwa 100% calon mahasiswa Ara-Lembanna yang bersekolah di SMA N 1 Bontobahari dan SMA N 1 Bontotiro (sekolah mayoritas calon mahasiswa asal Ara-Lembanna) dinyatakan tidak LULUS.

Kejadian diatas telah membuktikan terjadinya Degradasi kualitas calon mahasiswa Ara-Lembanna. Mohon saran dan krikitknya.

Senin, 18 Juni 2012

Pinisi (Dibalik Nama Besar Terpendam Banyak Masalah)



istimewa




Siapa yang tidak kenal dengan kapal kayu tradisional tangguh Pinisi Nusantara yang mampu  mengarungi 5 benua, namanya sangat terkenal hingga ke dunia. Tapi dibalik kejayaan nama pinisi sangat banyak masalah yang terpendam dan tidak pernah diselesaikan dengan serius. Pinisi sekarang diakui oleh daerah lain, dan yang paling menyedihkan kesejahteraan pekerja pinisi tidak seperti kejayaan nama pinisi itu sendiri. Nama Besar Pinisi serta kemegahan pinisi tak sebesar dengan gaji yang diterima para pekerja. Bahkan biasanya gaji para pekerja telah habis sebelum kapal selesai atau para pekerja biasa menyebutnya annussung (bahasa konjo)
istimewa
Pada saat ini Sulawesi Selatan sedang penuh dengan kebobrokan kepentingan politis dari banyak pihak. Hal-hal yang seharusnya jadi perhatian khusus malah hanya menjadi sebuah hal sepele yang terpinggirkan. Perjuangan yang pernah membuat negeri ini bangga, hanya menjadi cerita di halaman-halaman web internet dan gambar-gambar pinisi pada setiap kegiatan. Padahal kita adalah Negara Maritim, tapi justru di lautan kita makin terpuruk. Seperti nasib Pinisi Nusantara yang kini terlunta-lunta meskipun pernah mencetak prestasi yang luar biasa. Mungkin sudah banyak anak Indonesia yang tidak ingat lagi lagu “Nenek Moyangku Orang Pelaut”,dan lebih senang menghafal lagu-lagu boyband atau girlband asal negeri ginseng.
istimewa
Pengrajin-pengrajin yang membuat souvenir pinisi kebanggaan mereka pun hanya memajangnya di halaman rumah,dan seringkali tidak ada wisatawan yang tau akan hal ini, turis-turis lokal atau internasional yang datang hanya melihat-lihat kapal,pesan,menawar harga, dan pulang atau melancong ketempat wisata lain.
istimewa (kompas.com)
Tidak adanya perhatian khusus ini tercermin dari kondisi para pekerja pinisi serta tempat pembuatan yang mulai tidak terawat. Fasilitas yang kurang memadai menjadi masalah yang paling krusial. Ditambah sekarang para punggawa sangat susah mendapatkan kayu untuk pembuatan perahu.
Kondisi ini diperparah dengan munculnya anggapan-anggapan dari warga desa pembuat pinisi  yang mulai menyarankan pada anak-anaknya untuk merantau atau bekerja sebagai PNS dikarenakan profesi mereka sebagai pengrajin sudah tidak lagi menjanjikan. Anggapan ini bisa saja 30 tahun nanti sudah tidak ada lagi pekerja pinisi.
istimewa (silolona.com)
Masalah diatas tidak pernah diperhatikan secara serius oleh pemerintah. Mereka hanya sering menjual kebesaran nama pinisi dan gambar pinisi untuk menghasilkan devisa.

Senin, 14 Mei 2012

Nahkoda Baru Kerukunan Pelajar Mahasiswa Ara-Lembanna (KEPMA Ara-Lembanna)


Bertempat di Tanjung Bayang Makassar (sabtu,minggu/ 12mei-13 mei 2012) Kerukunan Pelajar Mahasiswa Ara-Lembanna atau yang yang biasa disingkat KEPMA melaksanan pelantikan sekaligus rapat kerja periode  2012-2013.






Tujuan Pada pelantikan dan rapat kerja ini sebagai ajan untuk pengambilan supah kepengurusan serta merancang program kerja yang akan dilaksanakan. Kali ini Stering comitte dan pengurus baru mengangkat  tema “Rekontruksi Paradigma Eksistensi Lembaga Dalam Upaya Membentuk Insan yang Berpikir Cerdas, Bermoral Intelektual dan Membawa KEPMA Menjadi Lebih Baik”.
Ketua Baru (Sebelah kanan/baju kotak-kotak)
suasana kegiatan

Kegiatan ini dihadiri sekitar empat puluan pelajar dan mahasiswa yang berasal dari desa Ara dan Lembanna. Pengurus di lantik oleh Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO).

Koordinator MPO memberikan sambutan
pengambilan sumpah pelantikan
peserta
Kerukunan  Pelajar Mahasiswa Ara-Lembanna untuk periode 2012-2013 dipimpin oleh Dedy kurniawan mahasiswa Universitas Indonesia Timur angkatan 2010. Pada sambutannya ketua baru ini mengajak seluruh pelajar dan mahasiswa Ara-Lembanna untuk bekeja sama untuk kejayaan KEPMA.

Senin, 07 Mei 2012

Leang Passea (Aset Besar yang Terabaikan)

Mulut Leang Passea dan jalan menuju Leang Passea
 oleh Nirwan Mahasiswa Unhas Asal Ara









Tak semua masyarakat Ara-Lembanna mengetahui keberadaan leang passea (biasa disebut gua passea) yang berada di desa Lembanna tepatnya di ujung Kaddaro dan ada pula yang mengetahui tapi mereka belum pernah kesana. 

Tepatnya pada hari Jumat 4 mei 2012 saya pun kesana  dengan teman saya, kondisinya sekarang sangat memprihatinkan. Untuk akses kesana saja kita harus berjalan kaki dengan semak belukar (orang ara biasa mengatakan a horongi tigi-tigia). cerita-cerita manis dari orang-orang tua Ara yang mengatakan didalam leang tersebut kita bisa mememukan banyak sekali barang-barang kuno, tapi sekarang sudah sangat susah didapatkan. Kondisi didalam pun sudah tidak ter urus lagi, ini terbukti dengan berserakannya peti-peti mayat didalam. setelah saya bercerita dengan salah satu penduduk kaddaro, dia mengatakan bahwa terakhir 7 tahun yang lalu Leang Passea masih ada penjaganya setelah dia mati maka tidak ada lagi penggantinya, selain itu kita masih bisa menemukan banyak sekali barang-barang kuno seperti piring, koing kuno dan guci-guci.

Dia pun menuturkan bahwa banyak  masyarakat luar dan masyarakat Ara sendiri kesana mengambil barang-barang kuno lalu menjualnya.Ini sungguh sangat tragis karena telah menyianyiakan aset yang sangat besar serta merusak aset purbkala. 

kejadian ini tidak terlepas karena kurangnya perhatian khususnya pemerintaah desa Lembanna sebagai penanggung jawab pada daerah administratif Leang Passea dan pada umumnya kurangnya perhatian pemerintah kabupaten Bulukumba.

Padahal Leang Passea bisa di jadikan sebagai tempat wisata purbakala yang dapat menambah penghasilan.daerah dan membuka lapangan pekerjaan. selain itu membantu melestarikan benda-benda kuno. Selama ini pemerintah kurang sosialisai atau pengenalan Leang Passea ke luar. Salah satu buktinya Leang Passea tidak terdaftar di situs resmi dinas pariwisata bulukumba sebagai objek wisata yang ada di Kabupaten Bulukumba.

yang tambah menyedihkan saya mendapat sebuah tulisan (penelitian) Asfriyanto di panyingkul.com (jurnalisme orang biasa) yang pernah berkunjung ke Leang Passea pada tahun 2007 bulan Mei. Dia menuliskan masalah yang ada di Leang Passea masih sama dari tahun 2007 sampai sekarang. Ini juga salah satu bukti yang menguatkan bahwa pemerintah desa, kecamatan, dan kabupaten sangat tidak memperhatikan Leang Passea.

berikut tulisan Asfriyanto

Jalan menuju Leang Passea dipenuhi semak belukar.
Foto: Yadi Mulyadi.
Leang (Gua) Passea di Kampung Ara, Kabupaten Bulukumba, adalah salah satu situs pekuburan kuno di Sulawesi. Di dalamnya, peti-peti mati yang dahulu tergantung di dinding gua, kini berserakan tak karuan bercampur tulang-belulang dan pecahan keramik kuno. Petugas kepurbakalaan yang menjaga tempat itu sudah meninggal dua tahun lalu, dan hingga kini belum ada penggantinya. Padahal, gua ini erat kaitannya dengan sejarah panjang orang Ara, sebagaimana dilaporkan citizen reporter Asfriyanto.(p!)

 “Pakailah baju yang berlengan panjang, juga celana panjang. Jangan lupa bawa air minum,” ujar Abdul Hakim (70). “Jalan ke sana sudah penuh semak.”

Saya pun mengiyakan, walaupun sedikit kecewa karena lelaki tua itu tidak akan ikut menemani rombongan kami. “Perintah” itu terbukti benar belaka, setelah kami menyusuri ujung jalan kampung Ara yang berbatu, melewati semak berduri yang merintang jalan – meninggalkan gerus di kulit yang terasa perih ketika bercampur keringat yang dipanggang sinar matahari. Karenanya, ketika sampai di Gua Passea, satu jam kemudian, sisa air minum di botol mineral itu pun tandas sudah.

Gua Passea dalam kamus speleologi dikategorikan sebagai gua vertikal, yang berarti mulut gua tepat berada di permukaan tanah. Karena itu, menemukan gua ini gampang-gampang susah sebab mulut gua tidak kelihatan. Bagi yang telah terbiasa menuju ke sana, rimbunan kayu bitti yang tampak mencolok dari hamparan kerumunan resam, menjadi penuntun alami. Sebab, pohon besar itu tepat tumbuh di mulut gua.

Gua itu menjadi begitu menarik bagi para peneliti, sebab selain mengambarkan karakterisitik gua pantai yang sangat jarang ditemukan, perut Gua Passea juga menyimpan misteri kebudayaan orang-orang Ara di masa lalu. Di dalam gua, setelah menuruni tangga alami sedalam lima meter, terbentanglah dunia lain – dunia bawah tanah, sekaligus dunia mitis orang-orang Ara. Betapa tidak, di antara kerlip stalagtit dan stalagmit, jejeran peti-peti mati serta tulang-belulang yang bercampur-baur dengan pecahan keramik kuno terhampar begitu saja di lantai gua.

Nama Passea sendiri berarti kepiluan, mungkin merujuk pada istana orang-orang mati. Dua tahun lalu, ketika saya pertama kali ke gua ini, kondisinya tidaklah seseram dan separah itu. Permukaaan gua yang dahulunya rapi, sekarang sudah terbongkar dan teraduk di sana-sini. Konon banyak paccucuk (para pencari keramik kuno) yang membongkar permukaan lantai gua untuk mencari saladong (keramik kuno, Celadon) yang mungkin masih tersimpan. Tutup peti mati yang berbentuk perahu dengan ukiran yang indah itu pun sudah banyak yang hilang, konon diperjualbelikan untuk suvenir bagi para wisatawan yang berkunjung ke Ara ketika memesan perahu. Karena itu, saya pun menjadi paham mengapa jumlah peti kubur saat ini tinggal tiga buah, semuanya dalam keadaan rusak parah.





Ada tiga peti mati yang tersisa di Leang Passea.
Foto: Yadi Mulyadi.


Seorang paccucuk asal Bantaeng, Ridwan (32), yang tidak sengaja bertemu dengan rombongan kami mengakui, ia sengaja datang menelusuri kawasan gua-gua pantai di sepanjang pesisir timur Bulukumba untuk mecari saladong. “Tapi tidak pernah saya ke Passea, Pak, karamakki,” ujarnya.

Walaupun dia berkelit, namun laiknya observasi para sarjana arkelogi, saya pun tahu, para paccucuk itu kerap menggunakan tempat keramat sebagai daerah operasi. Justru karena tersimpan sesuatu yang berharga, tempat-tempat tertentu sengaja dikeramatkan. Buktinya, Ridwan juga mengakui bahwa “Di Tujua Bantaeng, saya pernah dapat saladong tiga pasang, dijual dua juta satu biji di Makassar”.

Diduga, selain akibat perbuatan paccucuk, hancurnya situs penguburan kuno di Ara tidak telepas dari kisah DI/TII Kahar Muzakkar yang meluas ke daerah Ara pada awal tahun 1960-an. Abdul Hakim, yang di tuakan di Kampung Ara, menuturkan, “Dulu peti-peti itu digantung di dinding gua. Tapi mereka putuskan talinya. Banyak yang pecah. Dan masyarakat dilarang lagi baca-baca ke sana”. Praktis sejak saat itu, bahkan sampai saat ini, keberadaan Leang Passea dan segala bukti sejarah yang ada di dalamnya, hanya diketahui oleh segelintir orang tua dan para paccucuk saja.

Bagi Abdul Hakim, keberadaan peti kubur di gua itu melengkapi sejarah budaya Ara yang panjang. Ia menduga sejarah nenek moyang mereka berasal dari gua tersebut. Namun bagi para ahli arkeologi, keberadaan peti kubur itu membuka tabir yang lebih luas lagi, yakni sejarah kebudayaan orang-orang Sulawesi Selatan awal. Pasalnya, jejak tradisi penguburan dalam gua umumnya ditemukan di kampung-kampung yang memiliki banyak mitologi pra-Islam. Mitologi ini kental dengan sisa-sisa praktik kebudayaan orang-orang Austronesia yang dipercaya pernah melakukan migrasi dari daratan Asia pada 3000 tahun yang lalu.

Namun bukti untuk mengaitkan tradisi penguburan di Passea dengan bentuk penguburan serupa seperti di Tana Toraja, Kalumpang dan Malili, masih memerlukan penelitian lebih dalam. Selain itu, tidak ada pula yang tahu pasti, kapan tradisi penguburan dalam gua tersebut terhenti. “Mungkin ketika masuknya agama Islam yang disebarkan oleh Datok Tiro pada abad ke-17,” ujar Hasanuddin (45), salah seorang arkeolog. Pendapat itu mungkin ada benarnya, sebab jarak antara Kampung Ara dan Kampung Tiro – tempat Datok Tiro mengembangkan syiar Islam – tidaklah terlalu jauh.

Leang Passea sebenarnya sudah terdaftar dalam situs-situs purba yang di lindungi oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar. Namun sangat disayangkan, dua tahun lalu juru pelihara yang menjaga tempat tersebut telah meninggal dunia dan sampai saat ini belum ada penggantinya. “Semakin rusak mi itu, Pak. Apalagi banyak bule yang kalau pesan kapal ke Ara, kalau dia tahu ada barang-barang kuno, biasanya juga ingin membeli,” jelas Abdul Hakim.

Saat ini Abdul Hakim berpacu dengan waktu, menyelamatkan kepingan sejarah orang-orang Ara yang masih tersisa. Karena itu sejak tahun 2006, ia menyusun buku tentang pembuatan perahu pinisi dan sejarah orang Ara.

Tentang Gua Passea, ia punya keluhan. “Banyak peneliti yang datang ke Passea, tapi tulisan-tulisan tentang gua itu tidak satu pun yang ditinggalkan pada kami di sini,” katanya. Mendengar hal itu, hati saya menjadi kecut dan tiba-tiba saja merasa menjadi terdakwa. Jangan-jangan paccucuk dan saya ternyata tidak jauh berbeda.(p!)

*Citizen reporter Asfriyanto dapat dihubungi melalui email asfriyanto@yahoo.co.id

Selasa, 24 April 2012

Si jago merah hanguskan satu rumah di Desa Lembanna


Satu rumah semi permanen milik H.Masnawi yang berlokasi di dusun Pompantu desa Lembanna Kec.Bontobahari Kab.Bulukumba, selasa 24 April 2012 sekitar jam 15.00 ludes dilalap si jago merah. Asap tebal telihat mengepul di desa Arad an Lembanna.

Api bisa dipadamkan dalam kurung waktu dua jam lebih. Lamanya pemadaman ini diakibatkan mobil pemadam kebakaran Kab.Bulukumba sangat lambat tiba di lokasi karena jarak dari Kota Bulukuba dan lokasi kejadian sangat jauh ditambah jalan yang rusak.

Sebelum datangnya mobil pemadam kebakaran warga setempat bergotong royong untuk mematikan api. Hampir seluruh warga desa Ara dan desa Lembanna turun dalam upaya pemadaman api. Salah seorang warga yang turut membantu pemadman merasa kecewa pada pemerintah kabupaten Bulukumba yang belum menyiapkan mobil pemadam kebakarn di kecamatan Bontobahari.
Warga telihat berlarian untuk memadamkna api


Ratusan warga berkumpul melihat langsung kebakaran
Menurut keluarga korban yang dimintai keterangan menyebutkan “ kebakaran ini diduga akibat hubungan pendek arus listrik”. Kerugian dari kebakaran ini ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.


Penulis : Citizen Reporter
Editor  : Nirwan

Senin, 09 April 2012

KEPMA Ara-Lembanna Tolak Pembangunan Pabrik Peleburan Biji Besi Di Ara

salah seorang mahasiswa berorasi di depan massa
Sejumlah mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam kerukunan pelajar dan mahasiswa Ara-Lembanna melakukan aksi di depan kantor  Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, mereka menenolak pembangunan pabrik peleburan biji besi, hari ini, Senin (9/4/2012).




kepulan asap dari hasil pembakaran ban



Dalam aksinya para mahasiswa ini membakar ban sebagai salah satu contoh polusi dari asap ban yang mereka bakar.


Mahasiswa memerotes karena menilai lokasi tambang peleburan biji besi tersebut dinilai oleh mereka mengganggu warga di daerah sekitar.

Salah seorang dari kelompok pendemo rian mengatakan bahwa jika berfungsi mesin peleburan biji besi tersebut maka akan berefek langsung ke daerah permukiman warga.

" Jika berdiri mesin peleburan biji besi maka dampak polusi dapat pengaruhi warga, makanya kami tolak," katanya.


kepala desa ara menerima pendemo
Para demonstran ini pun diterima oleh kepala desa Ara dan kepala desa Lembanna dan mereka menandatangani MOU untuk menolak pembangunan pabrik peleburan biji besi.

Minggu, 18 Maret 2012

bulukumba 2012



Regency of Bulukumba refresents one of tourism developmentin south sulawesi,tourism development in regency of Bulukumba havingopportunity to be develop which are experiencedtourism of maritime,history andagrotourism hat having multitourious natural resources on manner and have theseparate individually is not owned by other tourism object.This tourism potencyto imform the visitors to come again.

PASSEA cafe is located in ARA village,precisely 11 kilometers from coast TANJUNGBIRA beach,this cafeexistence is expected by besides as the place for the cave adventures,for theresearchers for the students who want to researching the species in thecave,like stalactics,existing fauna and flora.

As well as PASSEA cave,PASSOHARA cave also offerthe beatifull natural scenery in the cave for the adventures andresearchers.This cave is located in ARA Village 1km from Passea Cave,we can gothere by walking around the village.

Sumber :
http://pinisiaramodern.blogspot.com/2012_03_18_archive.html