Welcome My Blog Village


Rabu, 10 Agustus 2011

Perahu Phinisi, kebanggaan Indonesia.


Perahu Phinisi merupakan perahu tradisional Indonesia yang sangat terkenal. Perahu tersebut mampu mejelajah lautan luas sampai ke lima benua. Proses pembuatan kapal sampai saat ini masih dilakukan dalam galangan kapal seadanya pokoknya berada di tepi pantai. Tanpa gedung, tanpa bangunan, bangunanpun beratapkan rumbia dan asalkan berada di tepi pantai . Pembuatan perahu ini banyak dilakukan di desa Ara, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.





Tenaga kerja adalah orang-orang kampung yang ilmunya didapat secara turun-temurun. Mula-mula Phinisi di buat di tepi pantai. Pada akhir pembuatan, perahu digeser ke batas laut dangkal dan dalam supaya tidak terjebak di daratan dan sulit untuk diluncurkan.





Bagian-bagian dari kapal phinisi :
1. Anjong, segitiga di depan sebagai penyeimbang.
2. Sombala alias layar utama, berukuran besar mencapai 200 m.
3. Tanpasere layar kecil berbentuk segitiga ada di setiap tiang utama.
4. Cocoro pantara atau layar pembantu ada di depan.
5. Cocoro tangnga alias layar pembantu ada di tengah.
6. Tarengke layar pembantu di belakang.





Kayu untuk membuat perahu yang terbaik adalah kayu bitti (Vitek cofassus). Kayu ini tumbuh di atas batu karang sehingga menghasilkan kayu yang keras dan rapat.Kayu bitti ada 2 macam yakni bitti betina (bitti berumah dua) dan bitti jantan. Bitti betina menghasilakn papan lurus dan lebar. Bitti jantan lebih bagus digunakan untuk membuas lunas perahu karena bengkok, dan perajin tidak perlu membengkokkan kayu. 
Perajin juga menggunakan kayu ulin dan jati (Tectona grandis). Untuk memperkuat (merekat) hubungan antar papan digunakan getah pohon barruk. celah papan ditutup dengan dempul yang berupa campuran kapur dan minyak kelapa yang diaduk selama 12 jam. Menurut ceritera phinisi telah di buat 700 tahun lalu.



Peluncuran perahu phinisi ke laut diawali dengan upacara ammossi. Dalam upacara itu disertai pemotongan seekor kambing bila bobot perahu 100 ton; bobot lebih dari 100 ton, pemotongan seekor sapi. Waktu terbaik untuk meluncurkan kapal saat air pasang dan matahari sedang naik. Sebagai pelaksana utama upacara itu, punggawa alias kepala tukang, duduk di sebelah kiri lunas. Ketika phinisi mengapung di laut, barulah pekerja memasang layar dan tiang.

0 komentar:

Poskan Komentar