Welcome My Blog Village


Senin, 18 Juni 2012

Pinisi (Dibalik Nama Besar Terpendam Banyak Masalah)



istimewa




Siapa yang tidak kenal dengan kapal kayu tradisional tangguh Pinisi Nusantara yang mampu  mengarungi 5 benua, namanya sangat terkenal hingga ke dunia. Tapi dibalik kejayaan nama pinisi sangat banyak masalah yang terpendam dan tidak pernah diselesaikan dengan serius. Pinisi sekarang diakui oleh daerah lain, dan yang paling menyedihkan kesejahteraan pekerja pinisi tidak seperti kejayaan nama pinisi itu sendiri. Nama Besar Pinisi serta kemegahan pinisi tak sebesar dengan gaji yang diterima para pekerja. Bahkan biasanya gaji para pekerja telah habis sebelum kapal selesai atau para pekerja biasa menyebutnya annussung (bahasa konjo)
istimewa
Pada saat ini Sulawesi Selatan sedang penuh dengan kebobrokan kepentingan politis dari banyak pihak. Hal-hal yang seharusnya jadi perhatian khusus malah hanya menjadi sebuah hal sepele yang terpinggirkan. Perjuangan yang pernah membuat negeri ini bangga, hanya menjadi cerita di halaman-halaman web internet dan gambar-gambar pinisi pada setiap kegiatan. Padahal kita adalah Negara Maritim, tapi justru di lautan kita makin terpuruk. Seperti nasib Pinisi Nusantara yang kini terlunta-lunta meskipun pernah mencetak prestasi yang luar biasa. Mungkin sudah banyak anak Indonesia yang tidak ingat lagi lagu “Nenek Moyangku Orang Pelaut”,dan lebih senang menghafal lagu-lagu boyband atau girlband asal negeri ginseng.
istimewa
Pengrajin-pengrajin yang membuat souvenir pinisi kebanggaan mereka pun hanya memajangnya di halaman rumah,dan seringkali tidak ada wisatawan yang tau akan hal ini, turis-turis lokal atau internasional yang datang hanya melihat-lihat kapal,pesan,menawar harga, dan pulang atau melancong ketempat wisata lain.
istimewa (kompas.com)
Tidak adanya perhatian khusus ini tercermin dari kondisi para pekerja pinisi serta tempat pembuatan yang mulai tidak terawat. Fasilitas yang kurang memadai menjadi masalah yang paling krusial. Ditambah sekarang para punggawa sangat susah mendapatkan kayu untuk pembuatan perahu.
Kondisi ini diperparah dengan munculnya anggapan-anggapan dari warga desa pembuat pinisi  yang mulai menyarankan pada anak-anaknya untuk merantau atau bekerja sebagai PNS dikarenakan profesi mereka sebagai pengrajin sudah tidak lagi menjanjikan. Anggapan ini bisa saja 30 tahun nanti sudah tidak ada lagi pekerja pinisi.
istimewa (silolona.com)
Masalah diatas tidak pernah diperhatikan secara serius oleh pemerintah. Mereka hanya sering menjual kebesaran nama pinisi dan gambar pinisi untuk menghasilkan devisa.

0 komentar:

Posting Komentar