Welcome My Blog Village


Diskusi Publik Mengenai Pinisi

Sabtu 25 Agustus 2012 bertempat di tanah kelahiran kapal pinisi yakni di desa Ara, kec. Bontobahari, forum pemerhati Ara-Lembanna melaksanakan diskusi publik mengenai pinisi dengan tema “ Pinisi : Sejarah, Budaya, dan Kesejahteraan Masyarakat

leang passea aset besar yang terabaikan

Leang (Gua) Passea di Kampung Ara, Kabupaten Bulukumba, adalah salah satu situs pekuburan kuno di Sulawesi. Di dalamnya, peti-peti mati yang dahulu tergantung di dinding gua, kini berserakan tak karuan bercampur tulang-belulang dan pecahan keramik kuno. .

Monumen Mandala Harusnya di Desa Ara, Bukan di Makassar

Monumen ini sepantasnya berada di Desa ara, pertanyaan selanjutanya kenapa desa Ara dianngap pantas menjadi tempat monumen mandala pembebasan Irian Barat.

KEPMA Ara-Lembanna Tolak Pembangunan Pabrik Peleburan Biji Besi Di Ara

Sejumlah mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam kerukunan pelajar dan mahasiswa Ara-Lembanna melakukan aksi di depan kantor Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, mereka menenolak pembangunan pabrik peleburan biji besi, hari ini, Senin (9/4/2012)..

Foto-foto Pinisi Karya Orang Ara.

Senin, 18 Juni 2012

Pinisi (Dibalik Nama Besar Terpendam Banyak Masalah)



istimewa




Siapa yang tidak kenal dengan kapal kayu tradisional tangguh Pinisi Nusantara yang mampu  mengarungi 5 benua, namanya sangat terkenal hingga ke dunia. Tapi dibalik kejayaan nama pinisi sangat banyak masalah yang terpendam dan tidak pernah diselesaikan dengan serius. Pinisi sekarang diakui oleh daerah lain, dan yang paling menyedihkan kesejahteraan pekerja pinisi tidak seperti kejayaan nama pinisi itu sendiri. Nama Besar Pinisi serta kemegahan pinisi tak sebesar dengan gaji yang diterima para pekerja. Bahkan biasanya gaji para pekerja telah habis sebelum kapal selesai atau para pekerja biasa menyebutnya annussung (bahasa konjo)
istimewa
Pada saat ini Sulawesi Selatan sedang penuh dengan kebobrokan kepentingan politis dari banyak pihak. Hal-hal yang seharusnya jadi perhatian khusus malah hanya menjadi sebuah hal sepele yang terpinggirkan. Perjuangan yang pernah membuat negeri ini bangga, hanya menjadi cerita di halaman-halaman web internet dan gambar-gambar pinisi pada setiap kegiatan. Padahal kita adalah Negara Maritim, tapi justru di lautan kita makin terpuruk. Seperti nasib Pinisi Nusantara yang kini terlunta-lunta meskipun pernah mencetak prestasi yang luar biasa. Mungkin sudah banyak anak Indonesia yang tidak ingat lagi lagu “Nenek Moyangku Orang Pelaut”,dan lebih senang menghafal lagu-lagu boyband atau girlband asal negeri ginseng.
istimewa
Pengrajin-pengrajin yang membuat souvenir pinisi kebanggaan mereka pun hanya memajangnya di halaman rumah,dan seringkali tidak ada wisatawan yang tau akan hal ini, turis-turis lokal atau internasional yang datang hanya melihat-lihat kapal,pesan,menawar harga, dan pulang atau melancong ketempat wisata lain.
istimewa (kompas.com)
Tidak adanya perhatian khusus ini tercermin dari kondisi para pekerja pinisi serta tempat pembuatan yang mulai tidak terawat. Fasilitas yang kurang memadai menjadi masalah yang paling krusial. Ditambah sekarang para punggawa sangat susah mendapatkan kayu untuk pembuatan perahu.
Kondisi ini diperparah dengan munculnya anggapan-anggapan dari warga desa pembuat pinisi  yang mulai menyarankan pada anak-anaknya untuk merantau atau bekerja sebagai PNS dikarenakan profesi mereka sebagai pengrajin sudah tidak lagi menjanjikan. Anggapan ini bisa saja 30 tahun nanti sudah tidak ada lagi pekerja pinisi.
istimewa (silolona.com)
Masalah diatas tidak pernah diperhatikan secara serius oleh pemerintah. Mereka hanya sering menjual kebesaran nama pinisi dan gambar pinisi untuk menghasilkan devisa.

Senin, 14 Mei 2012

Nahkoda Baru Kerukunan Pelajar Mahasiswa Ara-Lembanna (KEPMA Ara-Lembanna)


Bertempat di Tanjung Bayang Makassar (sabtu,minggu/ 12mei-13 mei 2012) Kerukunan Pelajar Mahasiswa Ara-Lembanna atau yang yang biasa disingkat KEPMA melaksanan pelantikan sekaligus rapat kerja periode  2012-2013.






Tujuan Pada pelantikan dan rapat kerja ini sebagai ajan untuk pengambilan supah kepengurusan serta merancang program kerja yang akan dilaksanakan. Kali ini Stering comitte dan pengurus baru mengangkat  tema “Rekontruksi Paradigma Eksistensi Lembaga Dalam Upaya Membentuk Insan yang Berpikir Cerdas, Bermoral Intelektual dan Membawa KEPMA Menjadi Lebih Baik”.
Ketua Baru (Sebelah kanan/baju kotak-kotak)
suasana kegiatan

Kegiatan ini dihadiri sekitar empat puluan pelajar dan mahasiswa yang berasal dari desa Ara dan Lembanna. Pengurus di lantik oleh Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO).

Koordinator MPO memberikan sambutan
pengambilan sumpah pelantikan
peserta
Kerukunan  Pelajar Mahasiswa Ara-Lembanna untuk periode 2012-2013 dipimpin oleh Dedy kurniawan mahasiswa Universitas Indonesia Timur angkatan 2010. Pada sambutannya ketua baru ini mengajak seluruh pelajar dan mahasiswa Ara-Lembanna untuk bekeja sama untuk kejayaan KEPMA.

Senin, 07 Mei 2012

Leang Passea (Aset Besar yang Terabaikan)

Mulut Leang Passea dan jalan menuju Leang Passea
 oleh Nirwan Mahasiswa Unhas Asal Ara









Tak semua masyarakat Ara-Lembanna mengetahui keberadaan leang passea (biasa disebut gua passea) yang berada di desa Lembanna tepatnya di ujung Kaddaro dan ada pula yang mengetahui tapi mereka belum pernah kesana. 

Tepatnya pada hari Jumat 4 mei 2012 saya pun kesana  dengan teman saya, kondisinya sekarang sangat memprihatinkan. Untuk akses kesana saja kita harus berjalan kaki dengan semak belukar (orang ara biasa mengatakan a horongi tigi-tigia). cerita-cerita manis dari orang-orang tua Ara yang mengatakan didalam leang tersebut kita bisa mememukan banyak sekali barang-barang kuno, tapi sekarang sudah sangat susah didapatkan. Kondisi didalam pun sudah tidak ter urus lagi, ini terbukti dengan berserakannya peti-peti mayat didalam. setelah saya bercerita dengan salah satu penduduk kaddaro, dia mengatakan bahwa terakhir 7 tahun yang lalu Leang Passea masih ada penjaganya setelah dia mati maka tidak ada lagi penggantinya, selain itu kita masih bisa menemukan banyak sekali barang-barang kuno seperti piring, koing kuno dan guci-guci.

Dia pun menuturkan bahwa banyak  masyarakat luar dan masyarakat Ara sendiri kesana mengambil barang-barang kuno lalu menjualnya.Ini sungguh sangat tragis karena telah menyianyiakan aset yang sangat besar serta merusak aset purbkala. 

kejadian ini tidak terlepas karena kurangnya perhatian khususnya pemerintaah desa Lembanna sebagai penanggung jawab pada daerah administratif Leang Passea dan pada umumnya kurangnya perhatian pemerintah kabupaten Bulukumba.

Padahal Leang Passea bisa di jadikan sebagai tempat wisata purbakala yang dapat menambah penghasilan.daerah dan membuka lapangan pekerjaan. selain itu membantu melestarikan benda-benda kuno. Selama ini pemerintah kurang sosialisai atau pengenalan Leang Passea ke luar. Salah satu buktinya Leang Passea tidak terdaftar di situs resmi dinas pariwisata bulukumba sebagai objek wisata yang ada di Kabupaten Bulukumba.

yang tambah menyedihkan saya mendapat sebuah tulisan (penelitian) Asfriyanto di panyingkul.com (jurnalisme orang biasa) yang pernah berkunjung ke Leang Passea pada tahun 2007 bulan Mei. Dia menuliskan masalah yang ada di Leang Passea masih sama dari tahun 2007 sampai sekarang. Ini juga salah satu bukti yang menguatkan bahwa pemerintah desa, kecamatan, dan kabupaten sangat tidak memperhatikan Leang Passea.

berikut tulisan Asfriyanto

Jalan menuju Leang Passea dipenuhi semak belukar.
Foto: Yadi Mulyadi.
Leang (Gua) Passea di Kampung Ara, Kabupaten Bulukumba, adalah salah satu situs pekuburan kuno di Sulawesi. Di dalamnya, peti-peti mati yang dahulu tergantung di dinding gua, kini berserakan tak karuan bercampur tulang-belulang dan pecahan keramik kuno. Petugas kepurbakalaan yang menjaga tempat itu sudah meninggal dua tahun lalu, dan hingga kini belum ada penggantinya. Padahal, gua ini erat kaitannya dengan sejarah panjang orang Ara, sebagaimana dilaporkan citizen reporter Asfriyanto.(p!)

 “Pakailah baju yang berlengan panjang, juga celana panjang. Jangan lupa bawa air minum,” ujar Abdul Hakim (70). “Jalan ke sana sudah penuh semak.”

Saya pun mengiyakan, walaupun sedikit kecewa karena lelaki tua itu tidak akan ikut menemani rombongan kami. “Perintah” itu terbukti benar belaka, setelah kami menyusuri ujung jalan kampung Ara yang berbatu, melewati semak berduri yang merintang jalan – meninggalkan gerus di kulit yang terasa perih ketika bercampur keringat yang dipanggang sinar matahari. Karenanya, ketika sampai di Gua Passea, satu jam kemudian, sisa air minum di botol mineral itu pun tandas sudah.

Gua Passea dalam kamus speleologi dikategorikan sebagai gua vertikal, yang berarti mulut gua tepat berada di permukaan tanah. Karena itu, menemukan gua ini gampang-gampang susah sebab mulut gua tidak kelihatan. Bagi yang telah terbiasa menuju ke sana, rimbunan kayu bitti yang tampak mencolok dari hamparan kerumunan resam, menjadi penuntun alami. Sebab, pohon besar itu tepat tumbuh di mulut gua.

Gua itu menjadi begitu menarik bagi para peneliti, sebab selain mengambarkan karakterisitik gua pantai yang sangat jarang ditemukan, perut Gua Passea juga menyimpan misteri kebudayaan orang-orang Ara di masa lalu. Di dalam gua, setelah menuruni tangga alami sedalam lima meter, terbentanglah dunia lain – dunia bawah tanah, sekaligus dunia mitis orang-orang Ara. Betapa tidak, di antara kerlip stalagtit dan stalagmit, jejeran peti-peti mati serta tulang-belulang yang bercampur-baur dengan pecahan keramik kuno terhampar begitu saja di lantai gua.

Nama Passea sendiri berarti kepiluan, mungkin merujuk pada istana orang-orang mati. Dua tahun lalu, ketika saya pertama kali ke gua ini, kondisinya tidaklah seseram dan separah itu. Permukaaan gua yang dahulunya rapi, sekarang sudah terbongkar dan teraduk di sana-sini. Konon banyak paccucuk (para pencari keramik kuno) yang membongkar permukaan lantai gua untuk mencari saladong (keramik kuno, Celadon) yang mungkin masih tersimpan. Tutup peti mati yang berbentuk perahu dengan ukiran yang indah itu pun sudah banyak yang hilang, konon diperjualbelikan untuk suvenir bagi para wisatawan yang berkunjung ke Ara ketika memesan perahu. Karena itu, saya pun menjadi paham mengapa jumlah peti kubur saat ini tinggal tiga buah, semuanya dalam keadaan rusak parah.





Ada tiga peti mati yang tersisa di Leang Passea.
Foto: Yadi Mulyadi.


Seorang paccucuk asal Bantaeng, Ridwan (32), yang tidak sengaja bertemu dengan rombongan kami mengakui, ia sengaja datang menelusuri kawasan gua-gua pantai di sepanjang pesisir timur Bulukumba untuk mecari saladong. “Tapi tidak pernah saya ke Passea, Pak, karamakki,” ujarnya.

Walaupun dia berkelit, namun laiknya observasi para sarjana arkelogi, saya pun tahu, para paccucuk itu kerap menggunakan tempat keramat sebagai daerah operasi. Justru karena tersimpan sesuatu yang berharga, tempat-tempat tertentu sengaja dikeramatkan. Buktinya, Ridwan juga mengakui bahwa “Di Tujua Bantaeng, saya pernah dapat saladong tiga pasang, dijual dua juta satu biji di Makassar”.

Diduga, selain akibat perbuatan paccucuk, hancurnya situs penguburan kuno di Ara tidak telepas dari kisah DI/TII Kahar Muzakkar yang meluas ke daerah Ara pada awal tahun 1960-an. Abdul Hakim, yang di tuakan di Kampung Ara, menuturkan, “Dulu peti-peti itu digantung di dinding gua. Tapi mereka putuskan talinya. Banyak yang pecah. Dan masyarakat dilarang lagi baca-baca ke sana”. Praktis sejak saat itu, bahkan sampai saat ini, keberadaan Leang Passea dan segala bukti sejarah yang ada di dalamnya, hanya diketahui oleh segelintir orang tua dan para paccucuk saja.

Bagi Abdul Hakim, keberadaan peti kubur di gua itu melengkapi sejarah budaya Ara yang panjang. Ia menduga sejarah nenek moyang mereka berasal dari gua tersebut. Namun bagi para ahli arkeologi, keberadaan peti kubur itu membuka tabir yang lebih luas lagi, yakni sejarah kebudayaan orang-orang Sulawesi Selatan awal. Pasalnya, jejak tradisi penguburan dalam gua umumnya ditemukan di kampung-kampung yang memiliki banyak mitologi pra-Islam. Mitologi ini kental dengan sisa-sisa praktik kebudayaan orang-orang Austronesia yang dipercaya pernah melakukan migrasi dari daratan Asia pada 3000 tahun yang lalu.

Namun bukti untuk mengaitkan tradisi penguburan di Passea dengan bentuk penguburan serupa seperti di Tana Toraja, Kalumpang dan Malili, masih memerlukan penelitian lebih dalam. Selain itu, tidak ada pula yang tahu pasti, kapan tradisi penguburan dalam gua tersebut terhenti. “Mungkin ketika masuknya agama Islam yang disebarkan oleh Datok Tiro pada abad ke-17,” ujar Hasanuddin (45), salah seorang arkeolog. Pendapat itu mungkin ada benarnya, sebab jarak antara Kampung Ara dan Kampung Tiro – tempat Datok Tiro mengembangkan syiar Islam – tidaklah terlalu jauh.

Leang Passea sebenarnya sudah terdaftar dalam situs-situs purba yang di lindungi oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar. Namun sangat disayangkan, dua tahun lalu juru pelihara yang menjaga tempat tersebut telah meninggal dunia dan sampai saat ini belum ada penggantinya. “Semakin rusak mi itu, Pak. Apalagi banyak bule yang kalau pesan kapal ke Ara, kalau dia tahu ada barang-barang kuno, biasanya juga ingin membeli,” jelas Abdul Hakim.

Saat ini Abdul Hakim berpacu dengan waktu, menyelamatkan kepingan sejarah orang-orang Ara yang masih tersisa. Karena itu sejak tahun 2006, ia menyusun buku tentang pembuatan perahu pinisi dan sejarah orang Ara.

Tentang Gua Passea, ia punya keluhan. “Banyak peneliti yang datang ke Passea, tapi tulisan-tulisan tentang gua itu tidak satu pun yang ditinggalkan pada kami di sini,” katanya. Mendengar hal itu, hati saya menjadi kecut dan tiba-tiba saja merasa menjadi terdakwa. Jangan-jangan paccucuk dan saya ternyata tidak jauh berbeda.(p!)

*Citizen reporter Asfriyanto dapat dihubungi melalui email asfriyanto@yahoo.co.id

Selasa, 24 April 2012

Si jago merah hanguskan satu rumah di Desa Lembanna


Satu rumah semi permanen milik H.Masnawi yang berlokasi di dusun Pompantu desa Lembanna Kec.Bontobahari Kab.Bulukumba, selasa 24 April 2012 sekitar jam 15.00 ludes dilalap si jago merah. Asap tebal telihat mengepul di desa Arad an Lembanna.

Api bisa dipadamkan dalam kurung waktu dua jam lebih. Lamanya pemadaman ini diakibatkan mobil pemadam kebakaran Kab.Bulukumba sangat lambat tiba di lokasi karena jarak dari Kota Bulukuba dan lokasi kejadian sangat jauh ditambah jalan yang rusak.

Sebelum datangnya mobil pemadam kebakaran warga setempat bergotong royong untuk mematikan api. Hampir seluruh warga desa Ara dan desa Lembanna turun dalam upaya pemadaman api. Salah seorang warga yang turut membantu pemadman merasa kecewa pada pemerintah kabupaten Bulukumba yang belum menyiapkan mobil pemadam kebakarn di kecamatan Bontobahari.
Warga telihat berlarian untuk memadamkna api


Ratusan warga berkumpul melihat langsung kebakaran
Menurut keluarga korban yang dimintai keterangan menyebutkan “ kebakaran ini diduga akibat hubungan pendek arus listrik”. Kerugian dari kebakaran ini ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.


Penulis : Citizen Reporter
Editor  : Nirwan

Senin, 09 April 2012

KEPMA Ara-Lembanna Tolak Pembangunan Pabrik Peleburan Biji Besi Di Ara

salah seorang mahasiswa berorasi di depan massa
Sejumlah mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam kerukunan pelajar dan mahasiswa Ara-Lembanna melakukan aksi di depan kantor  Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, mereka menenolak pembangunan pabrik peleburan biji besi, hari ini, Senin (9/4/2012).




kepulan asap dari hasil pembakaran ban



Dalam aksinya para mahasiswa ini membakar ban sebagai salah satu contoh polusi dari asap ban yang mereka bakar.


Mahasiswa memerotes karena menilai lokasi tambang peleburan biji besi tersebut dinilai oleh mereka mengganggu warga di daerah sekitar.

Salah seorang dari kelompok pendemo rian mengatakan bahwa jika berfungsi mesin peleburan biji besi tersebut maka akan berefek langsung ke daerah permukiman warga.

" Jika berdiri mesin peleburan biji besi maka dampak polusi dapat pengaruhi warga, makanya kami tolak," katanya.


kepala desa ara menerima pendemo
Para demonstran ini pun diterima oleh kepala desa Ara dan kepala desa Lembanna dan mereka menandatangani MOU untuk menolak pembangunan pabrik peleburan biji besi.

Minggu, 18 Maret 2012

bulukumba 2012



Regency of Bulukumba refresents one of tourism developmentin south sulawesi,tourism development in regency of Bulukumba havingopportunity to be develop which are experiencedtourism of maritime,history andagrotourism hat having multitourious natural resources on manner and have theseparate individually is not owned by other tourism object.This tourism potencyto imform the visitors to come again.

PASSEA cafe is located in ARA village,precisely 11 kilometers from coast TANJUNGBIRA beach,this cafeexistence is expected by besides as the place for the cave adventures,for theresearchers for the students who want to researching the species in thecave,like stalactics,existing fauna and flora.

As well as PASSEA cave,PASSOHARA cave also offerthe beatifull natural scenery in the cave for the adventures andresearchers.This cave is located in ARA Village 1km from Passea Cave,we can gothere by walking around the village.

Sumber :
http://pinisiaramodern.blogspot.com/2012_03_18_archive.html

Jumat, 16 Maret 2012

Monumen Mandala Harusnya di Desa Ara, Bukan di Makassar

Opini : Oleh Nirwan

monumen dari jauh
papan nama monumen
monumen


Monumen Mandala terletak di Jalan Raya Jenderal Sudirman Makassar. Dibangun pada tahun 1994 sebagai tugu peringatan operasi Mandala Jaya pembebasan Irian Barat dari tangan penjajah Belanda. Di dalamnya terdapat diorama yang menceritakan proses pembebasan tersebut. Monumen Mandala, setinggi 75 meter, terbagi dalam empat lantai, dimana masing-masing lantai berisi simbol-simbol perjuangan pembebasan Irian Barat dan perjuangan rakyat Sulsel, termasuk zaman Pahlawan Nasional, Sultan Hasanuddin.
pintu gerbang monumen

Monumen ini sepantasnya berada di Desa ara, pertanyaan selanjutanya kenapa desa Ara dianngap pantas menjadi tempat monumen mandala pembebasan Irian Barat. Desa Ara sangat berperan penting dalam pembeasan Irian Barat dalam opersai Mandala yang lansung dipimpin oleh panglima komando Jendral Purnama Soerharho.

peta penyerangan
Di desa Ara lah tepatnya di pantai mandala ria di buat perahu sebanyak 24 buah kapal pendarat untuk pembebasan Irian barat. Selain masyarakat Ara membuat kapal pendarat, masyarakat Ara juga sebagai penagatur strategi penyerangan laut. Strategi penyerangan laut di desain selama 2 minggu bersama panglima komando Jendral Purnama Soerharho.Jadi selama 2 minggu panglima komando Jendral Purnama Soerharho dan pasukannya berada di desa Ara.
ilustrasi penyerangan

Strategi penyerangan laut yang di sumbangkan masyarakat ara yakni dengan membuat 12 kapal tanpa pengemudi atau nahkoda untuk mengelabui para tentara Belanda dari satu sisi, sehingga 12 kapal yang di atas nya ada pasukan menyerang dari sisi yang lain ( dari belakang) setelah pasukan Belanda fokus menyerang kapal 12 yang di atas nya tidak ada orang.

Keberadaan pasukan pembebasan Irian Barat lebih lama di desa Ara di banding berada di Makassar dan strategi yang di sumbangkan juga sangat ampuh jadi sepantasnya Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat berada di desa Ara
monumen dari kejauhan

"Pinisi Bukan Milik Bulukumba Semata?"

Mengapa ini bisa terjadi, masyarakat ara harus bergerak terutama anggota dewan kita yang terhormat yang berasal dari Bontobahari dan terkhusus buat bupati kita yang katanya punya darah keluarga desa Ara
kebanggaan ara telah di klaim


*Menjadi Ciri Khas Daerah, Miniatur Disimpan di Lobi Kantor
Laporan: Andhika Mappasomba

Pinisi yang selama ini dianggap sebagai kekayaan budaya masyarakat hingga menjadi identitas Bulukumba (Sulsel) mendapat ujian. Kini masyarakat Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan mengklaim juga sebagai miliknya.
Hal tersebut terungkap setelah seorang perantau asal Bulukumba, H Kamiluddin Daeng Malewa yang kini menetap dan menjadi seorang pengusaha di daerah tersebut, memberikan informasi dan gambar ke Tim Sisi Lain (TSL) Radar Bulukumba, Rabu (8/2) bahwa pinisi telah dijadikan identitas atau ciri khas daerah tersebut.
Kamiluddin mengungkapkan pinisi memang telah dijadikan sebagai ciri khas daerah tersebut. Bahkan dia mengatakan kalau Pemkab Tanah Bumbu memberi perhatian yang lebih pada pinisi. Hal tersebut dibuktikan Pemkab Tanah Bumbu dengan membuat miniatur pinisi yang diletakkan di lobi kantor bupati.
Bukan hanya itu. H Kamiluddin menjelaskan bahwa logo Kabupaten Tanah Bumbu saja memang menjadikan Perahu Pinisi sebagai salah satu ikon yang tegas di dalamnya.

Lebih jauh, H Kamiluddin menjelaskan bahwa pembangunan Perahu Pinisi di daerah itu pada mulanya diprakarsai seorang yang bernama H Tibo Dengi dan Tawang Daeng Baji (Punggawa dari Ara Bulukumba) dan untuk Sombala dan kelengkapannya tetap didatangkan dari juga Bira Bulukumba. Terakhir, keberlanjutan pembangunan pinisi di daerah tersebut dilakukan oleh seorang yang bernama H. Taheruddin hingga sekarang.

"Sebenarnya sejak tahun 70-an pinisi sudah dibuat di daerah ini, karena bahan bakunya yang berlimpah. Mereka membuatnya dengan kapasitas muatan yang jauh lebih besar, th 1980 yg terbesar adalah perahu milik Toke Ming Qui dengan nama KM DIRGAHAYU yang dibuat selama 2 tahun. lama kelamaan, tonase perahu yang dibuat berangsur mengecil karena bahan baku mulai berkurang. Bahkan, akhir tahun 2000-an ada pesanan dari Pemprov Kalsel untuk membuat Kapal Pesiar (masih jenis pinisi)," paparnya.

H Kamiluddin juga mengungkapkan kalau di Kalimantan memang banyak pinisi. Hanya sekarang produksinya mulai berkurang. Bahkan telah banyak yang menjadi bangkai di beberapa tempat. "Sisa-sisa pinisi bisa kita lihat perahu-perahu pinisi yang hampir jadi fosil di jembatan Batulicin dan Tanah Merah, pembangunannya tidak bisa dilanjutkan karena razia ilegal logging mulai ketat," ungkapnya.

Di dunia maya sendiri, khususnya jejaring sosial facebook, Klaim Pemkab Tanah Bumbu tersebut mengundang polemik tajam dan mengarah kepada kekecewaan yang menganggap bahwa Pemerintah Kabupaten Bulukumba sangat lemah dalam memberikan perhatian dan kepedulian dalam mengupayakan landasan hukum atas hak kekayaan milik daerah Bulukumba. Tak kurang dari 40 an komentar yang memberikan tanggapan terhadap persoalan tersebut di salah satu facebook milik TSL.

"Hari ini baru pinisi yg diklaim orang, ketika pemerintah tak peduli dengan warisan leluhur... mungkin esok bumi Bulukumba akan ada yang mengklaim sebagai milik pribadinya," jelas salah satu komentar yang dikutip oleh TSL milik pengguna akun Idrus Paturusy.

Menanggapi persoalan pinisi ini, seorang legislator Bulukumba, Zulkifli Saiyye yang dikonfirmasi di Kantor DPRD BUlukumba atas persoalan klaim Pemkab Tanah Bumbu ini mengatakan bahwa dia secara pribadi tidak bisa menerima hal tersebut. "Kami akan usut," jawabnya singkat kepada TSL. (Dhika/80)

Sumber : http://www.mercusuarnews.com/2012/02/phinisi-bukan-milik-bulukumba-semata.html

Kamis, 15 Maret 2012

Buku Bercerita tentang ARA (Narasi Islam di Asia Tenggara)

 
Buku ini adalah hasil penyigian Thomas Gibson di Desa Ara, Bulukumba, Sulawesi Selatan—sebuah desa Makassar di ujung selatan jazirah Sulawesi. Penelitian ini membentangkan hasil studi apik tentang komunitas-komunitas kompleks di Asia Tenggara Kepulauan yang memeluk Islam sejak kurun waktu 1300-1600. Di dalam buku ini, Gibson memaparkan tentang gagasan kosmologikal kerajaan-kerajaan, kosmopolitan mistisisme dan hukum Islam, serta gagasan global pada negara birokratik modern.


Buku ini merupakan buku kedua profesor antropologi University of Rochester ini, setelah menulis Kekuasaan Raja, Syeikh, dan Ambtenaar: Pengetahuan Simbolik dan Kekuasaan Tradisional Makassar 1300-2000 (Ininnawa, 2009). Hasil penelitian ini mendapat anugerah Clifford Geertz Prize tahun 2008 untuk kategori antropologi agama.


“ Sebuah capaian langka dalam hal menyingkap cara kerja pengetahuan simbolik dan teknik menunjukkan kekuatan rumusan teori klasik penyokong disiplin antropologi dengan gaya yang jarang terlihat akhir-akhir ini dalam tulisan etnografi ...”
Elizabeth Fuller Collins (Ohio University), Anthropology News


Sebuah kontribusi besar terhadap pemahaman kita tentang Islam di Asia Tenggara ... kepakaran Gibson dalam membaca dan menulis ulang sejarah lisan, kitab dunia Islam, kisah epik, silsilah kerajaan dan dokumen pemerintahan mempertontonkan bentuk terbaik dari kemampuan seorang ilmuwan, sebagaimana ia tunjukkan sebagai ahli antropologi sekaligus sejarawan. 
John T Sidel (London School of Economics), Journal of Islamic Studies


Sebuah kajian yang rumit dengan ambisi besar. Tom Gibson telah melanjutkan petualangannya dalam merajut ingatan dan tradisi Sulawesi untuk menggeledah beragam cara Islam ditafsirkan, dianut, dan didayagunakan dalam konteks tertentu di Asia Tenggara ... sebuah capaian besar.” 
Michael Laffan (Princeton University), Journal of the Economic and Social History of the Orient


“Proyek Gibson—juga relevan bagi sejarawan dan ahli antropologi yang mengkaji masyarakat lokal di Indonesia—adalah mengangkat kondisi lokal di Ara dalam kaitannya dengan perkembangan regional, nasional, dan global ... Penelitiannya yang membentang pada cakupan masa yang luas membuka kemungkinan-kemungkian baru, khususnya pada bidang ilmu yang masih jarang ditulis dan melakukan lintas-batas masa yang sangat disenangi para sejarawan: masa modern versus pra modern, masa kolonial, dan pasca kolonial.”
William Cummings (University of South Florida), Indonesia
 
Sumber : http://penerbit-ininnawa.blogspot.com/2011/12/narasi-islam-di-asia-tenggara.html