Welcome My Blog Village


Diskusi Publik Mengenai Pinisi

Sabtu 25 Agustus 2012 bertempat di tanah kelahiran kapal pinisi yakni di desa Ara, kec. Bontobahari, forum pemerhati Ara-Lembanna melaksanakan diskusi publik mengenai pinisi dengan tema “ Pinisi : Sejarah, Budaya, dan Kesejahteraan Masyarakat

leang passea aset besar yang terabaikan

Leang (Gua) Passea di Kampung Ara, Kabupaten Bulukumba, adalah salah satu situs pekuburan kuno di Sulawesi. Di dalamnya, peti-peti mati yang dahulu tergantung di dinding gua, kini berserakan tak karuan bercampur tulang-belulang dan pecahan keramik kuno. .

Monumen Mandala Harusnya di Desa Ara, Bukan di Makassar

Monumen ini sepantasnya berada di Desa ara, pertanyaan selanjutanya kenapa desa Ara dianngap pantas menjadi tempat monumen mandala pembebasan Irian Barat.

KEPMA Ara-Lembanna Tolak Pembangunan Pabrik Peleburan Biji Besi Di Ara

Sejumlah mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam kerukunan pelajar dan mahasiswa Ara-Lembanna melakukan aksi di depan kantor Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, mereka menenolak pembangunan pabrik peleburan biji besi, hari ini, Senin (9/4/2012)..

Foto-foto Pinisi Karya Orang Ara.

Kamis, 15 Maret 2012

TRADITIONAL PHINISI SHIP BUILDER ARA, BULUKUMBA


Phinisi Ship name: DEWI NUSANTARA

Phinisi Ship name: RAJA LAUT, length 27 meter
wooden boatPhinisi Schooner Ship Building in Tana Beru, Bulukumba

Phinisi Ship name: SILOLONA, Length 36 meter



Silolona construction
Dunia Baru construction - length 36 meter

Dunia Baru Construction

WAOW construction. Length 45 meter


Traditional Phinisi ship building in Tana Beru, Bulukumba, South Sulaesi, built in the beach, almost done, without Sail

Engine installation

Phinisi Boat Craftsmen





boat builder sulawesi




 
haji adbul wahab boat builder sulawesi
Haji Abdul Wahab is a professional worldwide well-known traditional Bugis Phinisi Master Boat Builder from Desa Ara Kabupaten Bulukumba. Haji Abdul Wahab who inherited the hereditary tradition of marine ancestors.
Haji Abdul Wahab is called The Master to those who have been working for him as well as his clients by respecting The Master’s fine work, accuracy, quality, his passion and love towards his work, his deep intuition  building the ship from piece to piece of woods to be an art work.
Ara, the village known as the center of traditional boat craftsmanship in Bulukumba. Bulukumba is the center of boat building in Eastern Indonesia and renowned for its boat building. Bulukumba is world famous for its boat industry to meet the needs of fishing vessels.
Bulukumba regency is famous for phinisi boat industry.
The craftsmen at Tana Beru, Bulukumba, South Sulawesi, central of traditional Phinisi ship building, still keep the tradition in the Building Pinisi Schooner by using using traditional tools and equipments.
The Phinisi Boat is traditionally built with luxury interior from teak wood and the fittings carefully choosen that fits to what it says "East meats West " and turned to be Luxury Charter Phinisi.

Some of the phinisi ships he built:
  1. Silolona
  2. Dewi Nusantara
  3. Dunia Baru
  4. Raja Laut
  5. Waow
 Sumber : http://www.baliwall.com/traditionalphinisishipbuilder.html

Selasa, 06 Maret 2012

Kekayaan Nusantara? ENTAHLAH, khasanah ini seakan hanya seperti dongeng belaka...!!!

oleh H.Kamiluddin
 

ALKISAH dalam mitologi masyarakat Tanah Beru, nenek moyang mereka menciptakan sebuah perahu yang lebih besar untuk mengarungi lautan, membawa barang-barang dagangan dan menangkap ikan. Saat perahu pertama dibuat, dilayarkanlah perahu di tengah laut. Tapi sebuah musibah terjadi di tengah jalan. Ombak dan badai menghantam perahu dan menghancurkannya. Bagian badan perahu terdampar di Dusun Ara, layarnya mendarat di Tanjung Bira dan isinya mendarat di Tanah Lemo.

Peristiwa itu seolah menjadi pesan simbolis bagi masyarakat Desa ARA. Mereka harus mengalahkan lautan dengan kerjasama. Sejak kejadian itu, orang ARA hanya mengkhususkan diri sebagai pembuat perahu. Orang bira yang memperoleh sisa layar perahu mengkhususkan diri belajar perbintangan dan tanda-tanda alam. Sedangkan orang Lemo-lemo adalah pengusaha yang memodali dan menggunakan perahu tersebut. Tradisi pembagian tugas yang telah berlangsung selama bertahun-tahun itu akhirnya berujung pada pembuatan sebuah perahu kayu tradisional yang disebut Phinisi.

Indonesia dewasa ini memang sedang penuh dengan hiruk pikuk kepentingan dari banyak pihak. Hal-hal yang seharusnya diperhatikan malah jadi diabaikan. Hal-hal yang pernah membuat negeri ini bangga, sekarang sudah dilupakan. Padahal sebagian besar wilayah kita adalah lautan. Tapi justru di lautan kita makin tertinggal. Seperti nasib Phinisi Nusantara yang kini terlunta-lunta meskipun pernah mencetak prestasi yang luar biasa. Dan mungkin sudah banyak orang Indonesia yang tidak ingat lagi lagu “NENEK MOYANGKU ORANG PELAUT”.


Sumber : http://www.facebook.com/sin.bangngia

Rabu, 22 Februari 2012

PEREMPUAN ARA

perempuan dan laki laki pada hakikatnya sama dalam suatu masyarakat.yang membedakan adalah fungsi dan peran yg diemban untuk mengatasi suatu masalah dalam kehidupan manusia,dalam perkembangan selangjutnya ,perempuan kadang2 harus menjadi makhluk domestik karena tuntutan kehidupan yg lambat laun mendapat justifikasi dari masyarakat sebagai makhluk kelas dua( Second Sex ) .hal inilah yg selanjutnya melahirkan gerakan feminisme dgn beragam bentuk dan tuntutannya,yg ingin membebaskan prempuan dari keterpurukan domestifikasi.

Orang ARA merupakan salah satu etnik kongjo di sulawesi selatan yg mempunyai keunikan dari segi bahasa dan budaya termasuk dinamika kehidupan perempuan dan laki laki yg jejaknya ditelusuri hingga saat ini.penelusurannya dapat ditemukan dlm berbagai naskah LONTARAQ atau tradisi lisan yg tetap hidup dlm masyarakat ARA.hingga saat ini.

      dipaparkaan  dlm tradisi lisan orang ARA"teamako larroi anaq.kuassenji larro atinnu,tamalante nawa-nawanu,adaqmi rikatte tamakulleaki maqduta ri baine tau lebba nilohong lohong. by WAHAB

Sumber :
http://pinisiaramodern.blogspot.com/search?updated-min=2012-02-01T00:00:00-08:00&updated-max=2012-03-01T00:00:00-08:00&max-results=1

Kamis, 02 Februari 2012

bandara akan hadir di desa ara

gambar ilustrasi (istimewa)




Bupati Bulukumba, Zainuddin Hasan serius merintis bandara. Bahkan, dia menargetkan lapangan terbang tersebut sudah bisa dioperasikan mulai tahun 2014. Sekarang sudah berlangsung visibility study.

Zainuddin mengaku sudah menyiapkan lahan 150 hektare untuk pembangunan bandara tersebut. Lokasinya di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari. Lokasi ini dekat dengan Pantai Pasir Putih Tanjung Bira, ikon Bulukumba.

Lahan bakal bandara tersebut, lanjut Zainuddin, adalah lahan tidur. Dengan begitu, anggaran pembebasan lahannya bisa ditekan. Pemerintah menyiapkan anggaran pembebasan lahan Rp 2.000 per meter.

Menurut Zainuddin dirinya sudah mulai menjalin komunikasi dengan beberapa pihak untuk segera dilakukan pembebasan lahan. Hal ini, kata dia, penting untuk memastikan ada lahan yang siap untuk pembangunan bandara tersebut.

Dijadwalkan dalam dua bulan ke depan, proses analisa kelayakan ini sudah rampung. Selanjutnya, akan dilakukan perencanaan pembangunannya secara bertahap.

"Bandara ini adalah bagian dari obsesi saya sebagai bupati. Saya tidak main-main. Ini memang butuh kerja keras karena anggarannya besar. Tetapi, kalau diusahakan pasti bisa," kata mantan Bupati Pohuwato, Gorontalo itu.

Rencananya, bandara Bulukumba akan melayani beberapa rute, yakni Bulukumba-Bali, Bulukumba-Mataram, dan Bulukumba-Makassar. Zainuddin mengatakan Kementerian Perhubungan sudah memberikan sinyal positif.

Anggota DPRD Bulukumba, Rudy Wachyudin mendukung rencana pembangunan bandara itu. Bandara itu, lanjutnya, bisa meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata.

Legislator asal Daerah Pemilihan Bontobahari itu menambahkan lokasi Desa Ara sangat cocok untuk pembangunan bandara. Struktur tanahnya yang berupa bebatuan dinilai sangat mendukung.(arm/sap)

Tahap Awal Butuh Rp 100 M

Pemkab Bulukumba memastikan, areal yang akan digunakan tersebut sudah tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Hal itu sebagai bentuk keseriusan pemerintah setempat untuk segera menyiapkan alternatif jalur transportasi baru bagi pengunjung dan masyarakat Bulukumba. Selain itu, juga dimaksudkan sebagai salah satu terobosan menggenjot sektor pariwisata. Khususnya menggaungkan ikon Bulukumba, Tanjung Bira dan industri galangan kapal tradisional Pinisi.

Bupati Bulukumba, Zainuddin Hasan menegaskan, dengan tersedianya lahan tersebut, target pertama yang akan dilakukan adalah memastikan pesawat bisa mendarat di Bulukumba. Soal pengembangannya ke depan, Zainuddin mengaku akan melakukannya tahap demi tahap sesuai dengan kebutuhan yang ada.

Untuk tahap awal, Zainuddin mengatakan, sedikitnya dibutuhkan dana Rp 100 miliar. Itu pun untuk tahap awal, mantan bupati Pohuwato Gorontalo ini memprediksi tidak akan cepat rampung. Hanya saja, dia berjanji akan berusaha semaksimal mungkin merealisasikan bandara tersebut untuk tahap awal sebelum periodenya berakhir.

Optimisme Zainuddin merintis bandara di Bulukumba ini lantaran mengaku sudah mendapat respons dari pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan RI. Hal tersebut, kata dia, menjadi penyemangat dalam merampungkannya. Apalagi, beberapa waktu lalu sudah dilakukan peninjauan lokasi dan sudah dalam tahap pemeriksaan kelayakan penerbangannya. Dia berharap rencana ini mendapat dukungan dari masyarakat Bulukumba karena jika hal ini bisa terwujud, maka dipastikan sektor pariwisata Bulukumba akan semakin bergairah.

"Ini adalah bagian dari upaya untuk segera menjadikan Bulukumba sebagai salah satu sentral perekonomian di Sulsel. Target saya bisa mendarat pesawat dululah. Saya kira itu realistis," kata Zainuddin, Minggu, 18 Desember 2012.

Soal jalur transportasi udara yang akan dibuka jika nantinya terealisasi. Dia menyebutkan, setidaknya ada tiga jalur.  Yakni Makassar-Bulukumba, Bulukumba-Bali, dan Bulukumba-Mataram, Nusa Tenggara Barat. Zainuddin mengklaim sudah mendapat beberapa perusahaan penerbangan yang siap bekerja sama dengan Pemkab Bulukumba jika nantinya bandara tersebut rampung.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bulukumba, Andi Nasaruddin Gau mengatakan, dirinya yakin jika nantinya bandara tersebut terealisasi, maka pengunjung wisata akan meningkat signifikan. Apalagi, kata dia, selama ini kendala utama dalam mengembangkan pariwisata di Bulukumba memang dari segi akses untuk mencapainya. Hanya saja, jika nanti ada bandara apalagi ditempatkan tidak jauh dari kawasan wisata, maka pariwisata Bulukumba khususnya Tanjung Bira, Samboang, dan Pantai Mandala Ria, termasuk Lemo-lemo dan pantai Ara akan semakin lebih cepat berkembang. (arm)



copy right
http://www.fajar.co.id/read-20120201182216-bulukumba-siapkan-150-hektare
http://www.fajar.co.id/read-20111218182313-pemkab-siapkan-150-hektare-lahan-bandara

Rabu, 28 Desember 2011

Menguasai Bahari dengan Pinisi

Menguasai Bahari dengan Pinisi
MI/Lina Herlina/ip
BASO tampak serius melihat anak buahnya sedang mengukur kayu yang dipakai untuk lambung kapal. Beberapa orang lainnya menggergaji kayu untuk membuat tiang layar.

Kesibukan semacam itu sangat umum dijumpai di tempat kerja Haji Baso Muslim, seorang pengusaha kapal tradisional pinisi di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Di beberapa tempat, kesibukan membuat pinisi bahkan telah menyatu dalam kehidupan masyarakat Bulukumba.

Suku Bugis-Makassar serta kisah pelaut Mandar dan Konjo di Sulawesi Selatan dikenal sebagai pelaut ulung. Mereka juga memiliki kapal tradisional yang terbuat dari kayu dengan dua tiang layar utama dan tujuh layar, yaitu tiga di ujung, dua di depan, dan dua di belakang. Itulah pinisi.

Tanggal 8 November lalu masuk sejarah pembuatan pinisi karena telah diluncurkan pinisi berukuran 10 meter x 50 meter, kedalaman 5 meter, dan berat 400 ton. Tonasenya 700 ton serta memiliki tiga dek/tingkat.

Pada tanggal tersebut pinisi besar itu memulai pelayaran perdana. Seorang pengusaha dari Polandia bernama Mister Robin telah memesan pinisi kepada Baso Muslim senilai Rp4 miliar. Pengerjaan kapal membutuhkan waktu sembilan bulan dan 13 perajin.

Baso Muslim menerangkan pinisi ukuran besar itu sudah dibuat sejak Oktober 2010. "Bentuknya murni pinisi meski oleh pemesan rencananya akan dijadikan kapal wisata," jelas Baso.

Jauh sebelumnya sekitar 1999, Baso pernah membuat pinisi pesanan orang Jepang dengan ukuran 15 meter x 45 meter, dan tonase 1.000 ton.

"Sayangnya kapal tersebut tidak sempat melaut karena kontraknya batal. Alasannya yayasan yang memesan kapal tersebut bangkrut sehingga kapalnya dibongkar," kenang Baso.

Awalnya Baso ialah penjual bahan bangunan. Pekerjaan itu ditekuni sampai 1991. Ia berpindah profesi sebagai pembuat pinisi mengikuti jejak orangtuanya.

Hingga sekarang dia sudah membuat lebih dari 200 pinisi dengan berbagai ukuran. Pemesannya pun datang dari dalam dan luar negeri. Pinisi buatan Baso sudah dipesan pengusaha Belanda, Amerika, Prancis, Singapura, Malaysia, Spanyol, Jepang, Italia, dan Jerman.

"Sekarang kami sedang mengerjakan kapal pesanan dari orang Australia, Jerman, Italia, dan Belanda dengan ukuran yang berbeda-beda, mulai tonase kecil hingga sedang. Bentuknya juga sudah dimodifikasi sesuai permintaan pemesan," tambahnya.

Harganya pun bervariasi, mulai Rp270 juta untuk ukuran kecil hingga Rp2 miliar untuk ukuran sedang. Diakui Baso, hampir semua pelanggannya berasal dari luar negeri. Pemesan dalam negeri sangat sedikit.

"Kalaupun ada, mereka tidak memesan pinisi. Mereka pesan kapal nelayan," terangnya.

Pemesan dari luar negeri biasanya orang yang pernah berkunjung ke Sulawesi Selatan. "Ada dari pemerintahan, pengusaha, maupun wisatawan."

Banyaknya pemesan dari luar negeri tidak berarti mereka menutup diri terhadap pelanggan dari dalam negeri. Para pelaku industri pinisi di Bulukumba masih sering menerima pesanan kapal dari Papua, Maluku, Jawa, Sumatra, dan Sulawesi sendiri. Selain kapal pesiar dan kapal pribadi, ada juga yang memesan kapal untuk dijual kembali.

Pembuatan pinisi tidak menggunakan kayu sembarangan. Dibutuhkan beberapa jenis kayu khusus seperti kayu besi, bitti, jati, ulin, nyamplong/pude, meranti, dan kandole.

Kayu besi dan bitti digunakan sebagai badan kapal. Jati dan ulin digunakan untuk pembuatan dek dan kamar-kamar di kapal, pude untuk tulang atau tiang-tiang, meranti untuk perabot seperti meja dan bangku, serta kayu kandole untuk pembuatan pasak.

Sayangnya, menurut Baso, kayu-kayu tersebut sekarang agak susah diperoleh.

Kayu besi, misalnya, harus mereka pesan dari Sulawesi Tenggara, jati dari Kabupaten Sinjai, dan ulin dari Kalimantan.

Tidak hanya itu, para perajin kapal di Bulukumba juga mengaku kesulitan memperoleh kayu yang berukuran besar.

"Dulu sebenarnya, dalam pembuatan pinisi harus menggunakan tujuh macam atau jenis kayu, tapi sekarang sudah tidak menggunakan tradisi tersebut. Sekarang sesuai dengan orderan dan permintaan pemilik atau pemesan kapal," ungkap Baso.

Alasannya sekarang ini industri pinisi tidak seperti dulu lagi. Di Pantai Panrang Luhu, Desa Bira, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, kini hanya tersisa dia yang menjalankan bisnis pinisi.

Sebaliknya di Desa Tana Beru, masih ada beberapa orang yang melakoni industri pembuatan pinisi. Salah satunya ialah Arwin yang memiliki anak buah 18 orang, dan mayoritas berasal dari Desa Ara.

Masih banyaknya orang di Tana Beru menjalani bisnis pinisi sesuai dengan legenda yang berkembang turun-temurun. Legenda menyebutkan di situlah sumber atau awal lahirnya keahlian membuat pinisi.

"Hanya, di Tana Beru mereka tidak membuat kapal dengan tonase besar karena alasan kedalaman pantai," jelas Baso.

Dia pun terkenang kepada salah satu kawan sesama pengusaha pinisi bernama Abdullah yang bisa membuat kapal cukup besar. Namun, panjang kapal tidak bisa melebihi 39 meter karena pantai yang dangkal.

"Kalau pantai dangkal, akan sulit menurunkan kapal besar dan panjang ke laut," imbuhnya. (N-3)

Sabtu, 17 Desember 2011

How to Build Phinisi Sailing Boat in Indonesia : Let us make you dream come true…


THE PHINISI : INDONESIA BEST YATCH EVER
What have we done to change these craft for a newly defined purpose as a yacht or charter vessel…?
Our goal has been to preserve the extraordinary aesthetic tradition of these vessels and to carry their best qualities forward, but to improve them where needed in order to serve their new purpose as charter yachts.
Changes:  Our aim has been to provide greater strength and longevity of structure than is found among local craft.  Our goals in so doing have been to reduce maintenance, to provide a high degree of comfort, improve the performance under power, and to increase the long term safety of the ship.
In order to create a luxury yacht or charter vessel out of the traditionally built Phinisi or KLM types has mainly been a matter of sizing and arranging the cabins for their new purpose and to refine the hull shape for use as a yacht, rather than as a much more burdensome cargo vessel.
As a bonus, the more refined yacht hull shape is much more comfortable in the sea than the much more boxy cargo hull types, which have a reputation for having a rather harsh and unkind motion when not deeply laden with cargo.  After all, a yacht need only carry a load of fuel, food, passengers, and their water toys.
Power:  Motive power is provided by a relatively much larger diesel engine than would be locally used. This is for vastly improved performance, safety and convenience as well as in order to achieve a more dependable charter schedule.  For example, where we would specify an engine of around 850 hp, an equivalently sized local cargo vessel would rarely have more than around 250hp to 350 hp…!
Of course the engines we specify would be larger still if it were required to get these boats to reach their full theoretical hull speed (i.e. an S/L of around 1.34).  However above a speed to length ratio of around 1.10 the power requirements and the consequent fuel use, as well as the machinery cost become excessive.
Tradition:  Still further requirements have been to blend the excellent Konjo / Bugis boat building traditions with a few of the specific requirements of the West, primarily in terms of comfort, structure, safety, and stability.
Structure:  A number of structural improvements over the typical cargo vessel construction have been specified. These were not dramatic changes in terms of the construction methods, but definitely they were a big change in terms of finesse and quality, so cumulatively the changes have been very important to the structure.
Examples of our modifications to the structure are that we have specified:
* The use of only top quality timbers;
* That the timbers be of the maximum obtainable length;
* That the proximity of joints in planking and other structure be according to Germanischer Lloyd’s requirements;
* That the frames be top quality and nicely finished;
* That proper scarf joints be used for all structural members;
* That an increased quantity and higher quality of fastenings be used throughout;
* That there be substantial bilge and deck stringers inside;
* That there be watertight bulkheads as specified by GL;
* That there be heavy duty long length engine girder timbers in order to handle the additional stresses imposed by the higher powered machinery.
These changes plus many less obvious refinements to the methods used for joining the primary structural members have all gone into the specification for a robust and long lasting wooden ship.
Cumulatively, these changes have been very significant – and indeed there is quite a large difference in terms of the quality and integrity of the resulting vessel as compared to the vessels built for cargo.  Even more dramatically, these refinements offer a vast improvement over the more typical poorly planned attempt to turn one of these local craft into a private yacht or charter vessel.

CAN A NEW WOODEN YACHT BE BUILT ECONOMICALLY…?
Yes!  …and of course that is the ultimate goal…!

Given that such a vessel is largely based on the very common local Phinisi / KLM types, it can still be very economically built in Indonesia using locally available timbers and locally available talent.
Unfortunately, we have consistently observed that due to the relatively low cost of building the wooden structure of these vessels, there always will be a steady supply of misguided Westerners who approach the Indonesian boat builders with the idea of turning one of their locally built craft into a yacht or charter boat at the lowest possible cost. Most often the result is extremely poor – mainly due to extremely inadequate planning and virtually non-existent project management.
These half hearted attempts to create a yacht inevitably result in an ill-conceived and / or poorly executed vessel, i.e. one that has not been ‘designed’ nor built to any standard, nor even effectively ‘managed’ during construction.  Although the local builders are very capable of producing excellent results with their own local vessel types, having been developed for carrying cargo they are not ordinarily so well suited to being turned into yachts.
Even worse, when these indigenous vessels get arbitrarily modified by various misguided ‘owner requests’ during construction, the final product can be shockingly bad – even to the point of being unsafe.  Of course there are exceptions, but they are not so common.
Most of the pre-existing charter vessels or private yachts that we have seen for sale in Indonesia are really not worth much.  Yes there are exceptions, however it should be kept in mind that any cargo vessels built for knowledgeable local cargo skippers that are still in excellent shape… it is extremely unlikely to actually find one for sale while there is still some working life remaining.
The overall point is that whether new or old, there is a very big difference between those vessels and the likes of what I have outlined in these pages.
The essential differences…?
* The amount of planning;
* The verification of structure per GL standards;
* The assurance of stability per IMO standards;
* Designing a shape that will behave well as a yacht;
* And finally, following through to assure that the vessel is constructed accordingly via an on-site team.
Having taken these steps, you can be assured that the resulting vessel will be a fine, safe, robust, and long lasting asset.
THE PURSUIT OF QUALITY
Building an Indonesian wooden vessel is a unique sort of adventure.  It is not unusual for someone to surf the web, see the Indonesian designs we have created, note their excellent qualities, print a few images off the web show the builders and ask them “can you build one like this?”  This has occurred several times.  Those events have been verified and duly noted.
The next crazy step is for someone to order ‘Study Plans’ and attempt to do the same.  I’d venture to say that the result will possibly be better than if they had made a drawing in the sand (as is also very common), but nowhere near the calibre of vessel that could have been.
Due to this apparently common tendency amongst those who are wild enough to want to build a boat in Indonesia, we have priced our ‘Estimating Plans’ for these vessels so that there is relatively little reason not to go for the whole package of ‘Building Plans’ which actually includes the vessel’s hull shape..!   In other words, if you already know that a given design is what you want there is little point in ordering the Estimating Plans separately, which only runs the cost up (and causes us extra work..!). Please review our complete Plans List for more information.
Overall, I want the as-built result with these craft to be the best that it possibly can be.  If owners go off into the bush with a half baked plan, they certainly will not end up with a fully baked result.  Since our aim is to encourage only the very best, we wish to arm our clients with all the information that will require.
CONSTRUCTION SUPERVISION
It is our intent to remain on-call as needed during construction to help supervise the information flow to the builders and to answer questions.  We do not get involved in actual project management per se, and we do not get physically involved in the build itself, except purely in an advisory capacity.
However via our prior various projects in Indonesia we have become familiar with a number of excellent contacts on Java and Sulawesi and we have a mountain of highly useful information to accompany our plans, including a clearly laid out strategy to achieve the build and how to put a team in place to get the best result.
We also have a short list of those who should be avoided…!
HOW TO DO IT RIGHT
Planning:  We find that the key to success with any project of this magnitude is thorough planning, done well in advance of any actual boat building being done, and in advance of any contract arrangements being made.
We therefore view the design of the vessel as being the first essential ingredient to success.  The other essential components are that highly skilled builders be found, and that during the building of the boat there be adequate communication via competent on-site project management.
Our contribution with these craft is not just to design an interior and general layout suited to the owner’s chartering or yachting requirements, but also to specify a pre-determined hull shape; to specify the structure so that only the highest quality wood and hot dip galvanized fastenings be used; and then to follow through during construction in order to assure that the requested enhancements to the structure be made and the original plans be followed faithfully.
The following is a brief outline of the process we have found to work best….
Building:  For maximum economy, the ideal build venue for a wooden hull of this size (meaning all the heavy woodwork of the hull, deck, and superstructure) will always be close to the best supply of good timbers.  Presently in Indonesia this means Kalimantan (the Indonesian part of the island of Borneo).
The Shape:  With each of our boat projects in Indonesia, in order to achieve the intended hull form we have made use of temporary internal mould frames.  The hull shape is first “lofted” and then the mould frames are built to match the lofting.   The mould frames are then erected onto the keel to act as a guide for the planking. This allows us to pre-determine the section shapes in order to match our computer generated hull shape (see image links above). You can observe the process of creating mould frames at our Indonesian Boatbuilding Pictures web page.
Per typical Indonesian practice, the planks are placed first, and the frames afterward.  This lends itself perfectly to the use of mould frames to guide the shape.   In other words, once the hull is planked according to the moulded shape, the internal framing is added later, very much as is the usual wooden boat building practice throughout Asia.  By this means we will have strayed from traditional methods only slightly in order to achieve the required shape, and then as needed in order to assure integrity of structure, longevity, and lessened maintenance.
Outfitting: Once the hull has been built, there is still plenty of additional work in outfitting such a craft.  To finish out the interior joinery, we have found that the Konjo builders themselves are highly skilled and can produce extremely fine results when guided by a clearly articulated plan.
After that, the primary task is to properly specify and install the mechanical and electrical equipment and various related systems.
The installation of the equipment and systems will always present a challenge throughout Indonesia – mainly because the typical locally built craft are extremely simply outfitted, therefore the requisite engineering skills for a charter vessel or a yacht can be difficult to find.  Thus it is only in large harbors such as Jakarta or Surabaya or Benoa in Bali where one will find the expertise required for the more elaborate systems that are found on a yacht of this size.
Other locations are also available with regard to the installation of systems… For example, Indonesia’s Batam island (near Singapore) has become a possible venue for this stage of the work, and has the advantage of little or no import duty and ready access to parts and equipment in Singapore.   Other possibly more enjoyable venues for systems completion are Bali in Indonesia, Langkawi or Penang in Malaysia, and Phuket in Thailand.  Though labor costs will be higher in Phuket than in Indonesia or Malaysia, labor will still be relatively inexpensive when compared to any Western venue.
In Use: When finished according to the plans and specifications, the result will be a world class yacht.   Whether used as a private yacht or in charter mode, this kind of vessel will offer a generous measure of luxury to anyone who steps onboard.
Source : http://www.kastenmarine.com/phinisi_quality.htm
For Plans : Please contact Mr. Michael Kasten at his email : michael@kastenmarine.com