Welcome My Blog Village


Diskusi Publik Mengenai Pinisi

Sabtu 25 Agustus 2012 bertempat di tanah kelahiran kapal pinisi yakni di desa Ara, kec. Bontobahari, forum pemerhati Ara-Lembanna melaksanakan diskusi publik mengenai pinisi dengan tema “ Pinisi : Sejarah, Budaya, dan Kesejahteraan Masyarakat

leang passea aset besar yang terabaikan

Leang (Gua) Passea di Kampung Ara, Kabupaten Bulukumba, adalah salah satu situs pekuburan kuno di Sulawesi. Di dalamnya, peti-peti mati yang dahulu tergantung di dinding gua, kini berserakan tak karuan bercampur tulang-belulang dan pecahan keramik kuno. .

Monumen Mandala Harusnya di Desa Ara, Bukan di Makassar

Monumen ini sepantasnya berada di Desa ara, pertanyaan selanjutanya kenapa desa Ara dianngap pantas menjadi tempat monumen mandala pembebasan Irian Barat.

KEPMA Ara-Lembanna Tolak Pembangunan Pabrik Peleburan Biji Besi Di Ara

Sejumlah mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam kerukunan pelajar dan mahasiswa Ara-Lembanna melakukan aksi di depan kantor Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, mereka menenolak pembangunan pabrik peleburan biji besi, hari ini, Senin (9/4/2012)..

Foto-foto Pinisi Karya Orang Ara.

Selasa, 05 Juli 2011

Muhannis, Penyelamat Naskah Kuno Ara.

oleh : Muhammad Nursam, Makassar
Muhannis
“...Saya hanya menulis sesuai imajinasi dan ingin mengisi kekosongan karya sastra yang menggunakan bahasa Makassar:” (Muhammad Nursam, Makassar).
Kalimat itu disampaikan Muhannis usai bedah buku terbarunya, Karruq Ri Bantilang Pinisi di redaksi FAJAR pekan lalu. Pria yang telah mempelajari sastra daerah sejak kecil karena tertarik dengan bahasa tertua di kampungnya.
Dia berkasih dulu, semasa kecilnya, dia mengira bahasa tertua tersebut sama dengan puisi yang diajarkan oleh gurunya di sekolah, hanya berbeda bahasa saja. Karena kecintaannya pada bahasa tersebut diapun berusaha mempelajari dan mengumpulkan naskah-naskah kuno dari kakek dan neneknya. Bahkan, banyak naskah-naskah keluarganya yang dia hafal namun semuanya telah hancur. Hal tersebut memicunya untuk memicu batinnya untuk mengolah bahasa daerah  menjadi karya sastra.
 Sepak terjangnya di dunia sastra khususnya karya sastra berbahasa Makassar telah mengantarnya mereaih beragam penghargaan.
Atas kecintaannya pda naskah kuno, Balai Arsip Nasional Makassar pernah memberikan piagam penghargaan pada dedikasinya menyelamatkan naskah-naskah kuno. Ia juga pernah menerima penghargaan Celebes Award dari Gubernur SulSel.
Muhannis mengisahkan, dia dan dua rekannya, Sakkaruddin dan Demmanyimba, ‘menggeledah’ kampung, menelusuri dan mencari naskah-naskah kuno yang masih tersisa. Hasilnya, kata dia, terkumpullah lebih dari 100 naskah kuno Ara yang sempat diselamatkan yang sebagian menjadi bahan penulisan novel “Karruq ri Bantilang Pinisi”.
“Untuk menyelamatkan naskah itu, saya kemudian mengundang Balai Arsip Nasional ke Ara dan membuat micro film seluruh naskah temuan kami beberapa tahun lalu. Dr. Mukhlis Paeni memimpin langsung penyelamatan itu. Bersama tim, dia bahkan harus datang ke Ara dua kali untuk menyelesaikan tugas penyelamatan itu. Dan kami yakin masih banyak naskah yang belum ditemukan”, terang Kepala SMAN I Sinjai Timur ini.
Dalam penciptaan karya sastra,hasil karya tangan putra dari pasangan Maggauq Daeng Gau dan Jaenong Daeng Sinnong ini selalu ditampilkan pada berbagai even dan pertunjukan. Di bidang lomba, suami dari Dra. Suhaebah ini menjadi juara cipta puisi daerah se-SulSel selama tiga tahun berturut-turut (2005,2006 dan 2007). Berbagai karya seninya telah dipentaskan dari tingkat desa hingga tingkat internasional.
Menariknya, pria kelahiran Bulukumba 5 Juni 1959 ini ternyata menyelesaikan pendidikan formalnya di jurusan Bahasa Jerman IKIP Ujung Pandang (sekaran UNM) pada 1985. Dengan segala ketekunannya menulis berbagai artikel budaya dan karya seni serta mendalami kehidupan komunitas tradisional di SulSel berbuah penghargaan sebagai penerima Celebes Award Bidang Kebudayaan dari Gubernur SulSel pada tahun 2005.
Muhannis menilai, bahasa Makassar jika diolah dengan baik akan menjadi ikon yang sangt bagus bagi perkembangan budaya. “Tentang sisi finansial, ini juga menjadi pertanyaan banyak orang. Saya hanya menulis sesuai imajinasi dan ingin mengisi kekosongan karya sastra yang menggunakan bahasa Makassar secara keseluruhan,” ungkapnya.
Kita berharap, akan tetap hadir Muhannis-Muhannis yang berinisiatif menyelamatkan naskah-naskah kuno dan cinta akan budaya dan bahasa daerahnya.(*).
Sumber : http://bulukumbatourism.blogspot.com/2011/07/muhannis-penyelamat-naskah-kuno-arazz.html

Senin, 27 Juni 2011

Novel Karruq ri Bantilang Pinisi di launcing Di ARA

sampul buku










Penulis bersama Istri dan Kamiluddin (pembicara) bersama istri Di GEMA ARA




Muhannis (penulis
Muhannis Ara, telah melauncing sebuah novel yang berjudul Karruq ri Bantilang Pinisi. Novel berbahasa Makassar itu, dilauncing di Gedung Masyarakat Desa Ara' Kecamatan Bonto Bahari, Bulukumba, Minggu (26/6/2011), pagi tadi

Acara launching novel tersebut dihadiri oleh ratusan masyarakat Ara dan mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) yang sedang mengadakan KKN di daerah itu.

Muhannis Ara mengatakan bahwa novel tersebut telah mulai direncanakan akan ditulis pada saat dia masih duduk di Kelas IV SD. Novel yang menceritakan secara fiksi sebuah pembuatan perahu phinisi yang perajinnya berasal dari Desa Ara, Bonto Bahari.

Selain itu, novel terbitan Ombak Jogjakarta ini, juga berkisah tentang romantika percintaan antara pemuda kampung Ara dan para sahi yang ketika itu sangat ketat dalam memegang keyakinan kulturalnya.

Desa Ara, adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba yang juga tanah kelahiran Muhannis Ara dan desa itu mempunyai catatan penting dalam sejarah bagi warga Bulukumba. Sebab desa itu muncul orang pandai membuat perahu phinisi.

"Saya telah bermimpi menuliskan sejarah Ara dalam bentuk Fiksi sejak kelas 4 SD yaitu tahun 1963 dan nanti tahun 2011 baru bisa terwujud," kata Muhannis Ara, saat melaunching buku itu, yang juga guru SMA Negeri 2 Kabupaten Sinjai.

Diungkapkan pula bahwa novel itu  adalah kali pertama ada buku novel yang menggunakan Bahasa Makassar. Saat launching kemarin, warga setempat sangat mengapresiasi kegiatan tersebut.

Di tempat itu pula  dipentaskan tari Salonreng, tari asli asal tanah komunitas Konjo di Bulukumba. Hadir sebagai pembicara Muhannis sebagai penulis novel, Arif Saenong budayawan yang juga penerima Celebes Award,  Kamiluddin dan Sabrang Manurung, sebagai pemerhati pinisi, Andhika Mappasomba sebagai sastrawan muda asal Bulukumba, serta dan Jafar Palawang yang juga budayawan Bulukumba.

Beberapa waktu lalu Prof Rapi Tang, sebagai Guru Besar di UNM yang mengatakan bahwa Novel tersebut adalah Novel pertama yang berbahasa Makassar.

"Apa yang dilakukan Muhannis adalah sesuatu yang luar biasa bagi Ara itu sendiri dan Sulawesi selatan umummnya. Ini adalah sebuah prestasi dan capaian budaya," katanya yang diungkapkan Muhannis.

Sumber : http://makassar.tribunnews.com/2011/06/26/muhannis-ara-launcing-novel-berbahasa-makassar-di-bulukumba

Minggu, 26 Juni 2011

(karya besar masyarakat ARA Muhannis) Bedah Novel "Karruq ri Bantilang Pinisi" di FAJAR


Masyarakatkan Bahasa Daerah, Tanamkan Budaya ke Generasi Muda

    Tunapaq paleq nakke oteq mangngonjoq linomapparassangang dunnia. Kuerang bangkeng caqdiku mangngagang ri boriq sunggu. Eroq kusombalang lopingku mange ri boriq maraeng, mingka paleq anjo sombalakku, sombalaq niaqmo patanna, guling niaq pattagalaqna.

Muhammad Nursam, Makassar

    Begitulah salah satu potongan kalimat yang dibacakan oleh Muhannis di hadapan para peserta diskusi novel karyanya "Karruq ri Banting Pinisi". Novel yang ditulisnya ini seluruh isinya berbahasa Makassar. Karruq ri Banting Pinisi sendiri berarti tangisan di gubuk pinisi.
    Bedah novel dipandu oleh redaktur FAJAR, Fachruddin Palapa itu selain menghadirkan penulisnya, juga menghadirkan dua pembicara lain. Mereka adalah Dr Ery Iswari, dosen Fakultas Ilmu Budaya Unhas dan Muhammad Nursam Direktur Penerbit Ombak, Yogyakarta. Bedah dan diskusi novel berlangsung di studio mini Harian Fajar Makassar, Sabtu, 25 Juni.
    Muhannis mengatakan, novel yang ditulisnya tersebut merupakan hasil suatu "kecelakaan". Dia sering menjadi juara cerita dan puisi berbahas Makassar namun dia tidak bisa diikutkan lagi karena semua juri khawatir pasti Muhannis lagi yang menang. Selain itu, Muhannis juga pernah berusaha mengirimkannya ke redaksi FAJAR, namun karyanya kepanjangan dan FAJAR tidak membuka lagi halaman untuk cerita bersambung. Maka dia pun berinisiatif mengumpulkan dan menulis tambahan cerita untuk diterbitkan menjadi novel.
    "Dalam novel ini pembaca akan menemukan mantera-mantera. Ini yang menjadi kontradiksi dan perdebatan dalam keluarga saya. Banyak yang tidak sepakat jika saya  menuliskannya dalam bentuk novel. Namun saya berprinsip, sesuatu itu belum pantas disebut ilmu jika disembunyikan. Baru bisa disebut ilmu jika sudah dibagikan ke masyarakat," tutur Muhannis.
     Ery Iswari yang juga telah menerbitkan buku berjudul Perempuan Makassar mengatakan, novel ini memiliki kekuatan. Dimana seluruh penulisannya menggunakan bahasa Makassar. Dengan menggunakan bahasa tersebut menandakan bahwa kita mesti bangga menggunakan bahasa daerah. "Ketika kami menawarkan ke penerbit Ombak, alhamdulillah Pak Nursam menyambutnya dengan sangat antusias," kisahnya.
    Dia juga menjelaskan beberapa filosofi yang terdapat pada sampul buku tersebut. Pada sampul terdapat gambar perahu pinisi. Menurut ketua program pendidikan sastra daerah FIB Unhas ini, pinisi filosofinya adalah petualang. "Jadi laki-laki Bugis-Makassar itu adalah petualang," sebutnya.
    Muhammad Nursam yang diberi kesempatan ketiga berbicara mengungkapkan, sebagai penerbit dia merasa tidak qualify jika harus membahas isi buku yang sarat dengan muatan local wisdom ini. Nursam mengatakan, selama menangani penerbitan dia belum pernah mendapati sebuah buku yang isinya secara keseluruhan menggunakan bahasa daerah. Saat ini buku-buku yang diterbitkan Ombak yang bermuatan Sulsel sudah mencapai 25 judul buku.
    "Waktu saya ditawari saya mengatakan, saya akan tutup mata menerbitkan buku bapak. Bagaimana mungkin kita memahami Indonesia jika kita tidak paham dan tidak punya referensi tentang hal-hal lokal. Kita akan gagap jika buta dengan hal-hal yang berbau lokal," urainya.
    Saat sesi tanya jawab, beberapa peserta mengapresiasi karya tersebut sebagai karya yang luar biasa. Diantara penanya ada Hasnawati Latief, Darwis, dan Mustafa Kufung.
    Hasnawati Latief  mempertanyakan buku ini dari segi komersialisasi dan keberanian penerbit ombak menerbitkan buku yang bermuatan local wisdom. Sementara Mustafa Kufung menilai buku ini akan lebih menarik jika diterbitkan pula seri yang berbahasa Indonesia. Sedangkan Darwis menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan bahasa daerah khususnya ucapan terima kasih yang tak ada dalam bahasa Makassar.
    Menanggapi pertanyaan tersebut, Muhannis menilai bahasa Makassar jika diolah dengan baik akan menjadi ikon yang sangat bagus bagi perkembangan budaya. "Tentang rencana diterjemahkannya ke dalam bahas Indonesia, saya serahkan sepenuhya kepada Bu Ery. Tentang sisi finansial, ini juga menjadi pertanyaan banyak orang. Saya hanya menulis sesuai imajinasi dan ingin mengisi kekosongan karya sastra yang menggunakan bahasa Makassar secara keseluruahan," ungkapnya.
    Nursam dari penerbit ombak mengakui, dari sisi bisnis buku-buku local wisdom yang menjadi ikon penerbitannya memang tidak seksi. "Namun, sejak awal saya berprinsip hidup adalah pilihan. Ini memang bukan pekerjaan yang mudah namun jika ombak tidak berbuat, siapa lagi yang akan melakukannya. Dengan menerbitkan buku-buku local wisdom, ombak tidak akan bangkrut," ujarnya, meyakinkan.
    Bedah novel juga dihadiri beberapa akademisi dan mahasiswa, baik dari Unhas maupun kampus lainnya. Hadir pula salah seorang murid Muhannis yang juga mantan wartawan FAJAR, Saharuddin Ridwan. Dia mengatakan, novel Karruq ri Bantilang merupakan karya seorang Ara Bulukkumba yang lebih Sinjai dari seorang Sinjai asli.
    "Menerbitkan buku bertema lokal bukanlah materi atau hasil penjualan yang menjadi tujuan utama namun, yang terpenting adalah bagaimana kita menenamkan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya," terang Sahar, bersemangat.  (#)


copy right fajar online

Senin, 28 Maret 2011

Phinisi, Sumbangan Butta Panrita Lopi untuk Dunia

Dalam setiap kesempatan pengisian biodata, selalu ada pertanyaan dengan label (wajib diisi), nah sebenarnya pertanyaan ini yang selalu saya jawab dengan penuh kebanggaan. Kenapa tidak karena pertanyaannya adalah Tempat lahir. Kuisi dengan sangat hati-hati dan penuh kebanggaan “BONTOBAHARI’.

Ada apa dengan tempat tersebut? Jika anda pernah berkunjung kemari.. anda pasti tau jawabannya. Iya, benar.. karena ditempat inilah perahu kebanggaan Indonesia dilahirkan “PHINISI NUSANTARA”

BONTOBAHARI

Berarti “Tanah Laut”, tempat ini adalah surga bagi para nelayan, mayoritas penduduknya menggantungkan hidupnya pada laut. Maka, jangan heran tentang kepiawaian penduduk setempat merakit kapal laut dan kehebatannya dalam membangun tradisi bahari selama ratusan tahun. Tempat ini berada sekitar 200km dari selatan kota Makassar. Nah, karena tangan-tangan kreatif inilah, lahir julukan Butta Panrita Lopi (Negeri para pembuat Perahu).

MITOLOGI PERAHU PHINISI

13013029561610665338

Kisah tentang perahu Phinisi dari desa tanah beru dan desa Bira (kec,bontobahari Bulukumba Sul-sel) adalah sebuah Legenda. Kisah mereka bukanlah sesuatu yang asing lagi. Namun jarang yang mengetahui tentang bagaimana sejarah dan tradisi panjang ini dibangun oleh nenek moyang, pun dengan kehebatan Para pelaut ulung tersebut. Budaya tersebut didasarkan pada penciptaan perahu pertama oleh nenek moyang mereka.

alkisah dalam mitologi masyarakat tanah beru, nenek moyang mereka menciptakan sebuah perahu yang lebih besar untuk mengarungi lautan, membawa barang-barang dagangan dan menangkap ikan. Saat perahu pertama dibuat, dilayarkanlah perahu di tengah laut. Tapi sebuah musibah terjadi di tengah jalan. Ombak dan badai menghantam perahu dan menghancurkannya. Bagian badan perahu terdampar di dusun ara, layarnya mendarat di tanjung bira dan isinya mendarat di tanah lemo.

Peristiwa itu seolah menjadi pesan simbolis bagi masyarakat desa ara. Mereka harus mengalahkan lautan dengan kerjasama. Sejak kejadian itu, orang ara hanya mengkhususkan diri sebagai pembuat perahu. Orang bira yang memperoleh sisa layar perahu mengkhususkan diri belajar perbintangan dan tanda-tanda alam. Sedangkan orang lemo-lemo adalah pengusaha yang memodali dan menggunakan perahu tersebut. Tradisi pembagian tugas yang telah berlangsung selama bertahun-tahun itu akhirnya berujung pada pembuatan sebuah perahu kayu tradisional yang disebut phinisi.

Kini keyakinan mistis terhadap mitologi kuno itu masih kental dalam setiap proses pembuatan phinisi. Diawali dengan sebuah ritual kecil, perahu phinisi dibuat setelah melalui upacara pemotongan lunas. Upacara itu dipimpin seorang pawang perahu yang disebut panrita lopi.Berbagai sesaji menjadi syarat yang tak boleh ditinggalkan dalam upacara ini seperti semua jajanan harus berasa manis dan seekor ayam jago putih yang masih sehat. Jajanan menimbulkan keinginan dari pemilik agar perahunya kelak mendatangkan keuntungan yang tinggi. Sedikit darah dari ayam jago putih ditempelkan ke lunas perahu. Ritual itu sebagai simbol harapan agar tak ada darah tertumpah di atas perahu yang akan dibuat.

Kemudian, kepala tukang memotong kedua ujung lunas dan menyerahkan kepada pemimpin pembuatan perahu. Potongan ujung lunas depan di buang ke laut sebagai tanda agar perahu bisa menyatu dengan ombak di lautan. Sedang potongan lunas belakang di buang ke darat untuk mengingatkan agar sejauh perahu melaut maka dia harus kembali lagi dengan selamat ke daratan. Pada bagian akhir, panrita lopi mengumandangkan doa-doa ke hadapan sang pencipta.

arsitektur perahu phinisi

Sejak tahun 1906, perahu phinisi tlah membanggaakan nama Indonesia di dunia internasional. Perahu ini merupakan bentuk termodern dari bentuk termodern dari kapal tradisional dari Orang-orang bugis makassar yang tlah melelui proses Evolusi.

Kapal itu dibuat sebagai perahu layar dengan dua tiang dan tujuh hingga delapan helai layar. Pada umumnya perahu ini berukuran kecil dengan daya muat antara 20 hingga 30 ton dan panjang antara 10 hingga 15 meter. Hampir keseluruhan pembuatan perahu dilakukan dengan teknik-teknik sederhana dan mengunakan tenaga mesin yang sangat minim.

1301303076491586964

· Anjong = segitiga di depan sebagai penyeimbang.

· Sombala = layar utama, berukuran besar mencapai 200 m.

· Tanpasere = layar kecil berbentuk segitiga ada di setiap tiang utama.

· Cocoro pantara = layar pembantu ada di depan

· cocoro tangnga = layar pembantu ada di tengah

· tarengke = layar pembantu di belakang.

Pelayaran Internasional Phinisi

Dunia telah mencatat keberhasilan Phinisi dalam menaklukkan pelayaran ganas mentusuri Samudera Fasifik menuju Vancouver Kanada. Bayangkan samudera yang terkenal mematikan ini ditaklukkan oleh Perahu yang terbuat dari kayu, PHINISI NUSANTARA. Bagi kebanyakan orang, misi ini adalah bunuh diri, namun Sang Capt.Gita Ardjakusuma bersama 11 awak kapalnya brhasil selamat dan membawa phinisi bersandar di Vancouver.

1301303161709743080(photo para awak kapal bersama President Soeharto sebelum dilepas ke Vancouver)

13013034761941152216Photo penyambutan para awak kapal Phinisi di Vancouver Kanada)

itu adalah kisah puluhan tahun yang lalu. Misi pelayaran phinisi nusantara dirancang guna berpartisipasi pada expo ’86 yang diselenggarakan di vancouver, kanada. Keseluruhan proyek pelayaran ini diprakarsai dan dikelola oleh yayasan phinisi indonesia raya (ypir) yang ketuai laksamana tni (purn) soedomo. Kapal yang memiliki panjang 37 meter dan berbobot 120 ton ini memulai pelayaran bersejarahnya pada tanggal 9 juli 1986.

Bertolak dari dermaga perikanan muara baru, jakarta utara dengan tujuan vancouver. Rute pelayaran yang dilalui sungguh berat dengan ombak yang dikabarkan hingga setinggi 7 meter. Jauh lebih tinggi dibanding tiang listrik. Apalagi menurut capt. Gita, mereka harus berlayar melawan angin. Setelah menempuh pelayaran sejauh 10.600 mil yang memakan waktu selama 68 hari akhirnya mereka dengan sukses mencapai tujuan, vancouver.
Di pelabuhan marine plaza, kapal beserta awaknya banyak mendapat sambutan dari masyarakat vancouver. Kabarnya setiap harinya kapal ini dikunjungi tidak kurang dari 3.000 orang pengunjung. Terlebih pada tanggal 21 september 1986, phinisi nusantara didatangi 25.000 pengunjung.

Kota vancouver memang meiliki sejarah bahari yang cukup panjang. Bagi mereka, kedatangan phinisi nusantara, sebuah kapal kayu dengan reputasi internasional yang berhasil menyeberangi samudera pasifik ini benar-benar mendapat perhatian yang penuh antusias. Dikabarkan, kedatangan phinisi nusantara di arena expo ’86 itu dengan serta-merta langsung membuat stand indonesia yang semula jarang didatangi orang mendadak dipenuhi pengunjung.

Bahkan stand indonesia mendapat sebuah penghargaan berupa paku rel kereta api yang merupakan simbol peringatan 100 tahun trans canada yang menjadi lambang transportasi masa lalu. Penghargaan ini hanya diberikan kepada 3 negara peserta expo ’86 yang dinilai paling spektakuler. Phinisi nusantara waktu itu benar-benar melambungkan nama indonesia di mata internasional.

Save Phinisi

Berkaitan dengan cerita kapal phinisi ini, pernah ada kekhawatiran dari orang-orang di bulukumba, sulawesi selatan, bahwa rancang bangun kapal phinisi akan didaftarkan hak patennya oleh negara asing. Mengingat sentra-sentra pembuatan perahu atau kapal phinisi yang terbesar di dunia justru terletak diluar indonesia.

Contohnya sentra-sentra itu malah berada di beberapa negara seperti jepang, australia, malaysia dan brunei. Sebelumnya, bulukumba sudah terlebih dahulu terkenal sebagai penghasil kapal phinisi dengan kualitas terbaik.

Indonesia dewasa ini memang sedang penuh dengan hiruk pikuk kepentingan dari banyak pihak. Hal-hal yang seharusnya diperhatikan malah jadi diabaikan. Hal-hal yang pernah membuat negeri ini bangga, sekarang sudah dilupakan. Padahal sebagian besar wilayah kita adalah lautan. Tapi justru di lautan kita makin tertinggal. Seperti nasib phinisi nusantara yang kini terlunta-lunta meskipun pernah mencetak prestasi yang luar biasa. Dan mungkin sudah banyak orang indonesia yang tidak ingat lagi lagu “nenek moyangku orang pelaut”.

Mereka dibalik ketangguhan Phinisi

1301304058292514956

(para pekerja yang berasal dari desa Ara, kec.bontobahari, Sulsel. mereka menggantungkan hidup pada pekerjaan yang diturunkan oleh nenek moyang mereka, sungguh penuh dedikasi tanpa seharipun berlibur)


13013042291001878735
(perahu phinisi dalam proses pembuatan, sekitar 5 bulan lagi, kapal ini akan ke Belanda. dipesan oleh salah satu pengusaha yang hendak menjadikannya keperluan pariwisata)

Demikianlah. semoga bermanfaat.

salam

Budiman Sukma.

makassar 28-03-2011.

Sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2011/03/28/phinisi-sumbangan-butta-panrita-lopi-untuk-dunia/

Jumat, 25 Maret 2011

An Original Manuscript Lontara from 15th Century

There is a current assuming  that modernization increasingly eroding the local culture. No doubt if the young generation now growing far left from local identity, including familiar with Lontara characters which is the traditional heritage of Bugis-Makassar.
But that assumption do not want accept by Muhannis. A high school German teacher who also future generations of Sinjai Ara kingdom at Bulukumba. He wont to see the script  Lontara truly extinct.
Departing from his love of reading text-heated Lontara sit on the bench since the third grade elementary school in 1967, he began collecting manuscripts Lontara legacy of her grandparents from the land of their ancestors in Ara, Bulukumba.
Today his collection of manuscripts collected Lontara which claimed as many as 20 pieces can be accounted for authenticity. He claimed his ancient manuscripts there Lontara oldest ata derived from 15th century, it’s about 1667.

muhannis and lontara book
Lontara ANCIENT MANUSCRIPT. Muhannis shows ancient manuscripts from his collection at his residence, Jl Sungai Tangka, Sinjai

“The text of the oldest ancient Lontara my collection contains teachings about astronomy,” says the man who born in Ara, Bulukumba 49 years ago. Cosmography that people of Bugis-Makassar used  in the past to know the signs of when the rainy season, dry season or planting season coming.


Ada saat ini dengan asumsi bahwa modernisasi semakin mengikis budaya lokal. Tidak diragukan lagi jika generasi muda sekarang tumbuh paling kiri dari identitas lokal, termasuk akrab dengan karakter Lontara yang merupakan warisan tradisional Bugis-Makassar.

Tetapi asumsi yang tidak ingin menerima dengan Muhannis. Seorang guru sekolah menengah Jerman yang juga generasi masa depan Sinjai Ara kerajaan di Bulukumba. Dia wont melihat Lontara naskah benar-benar punah.

Berangkat dari kecintaannya membaca teks-panas duduk di bangku Lontara sejak sekolah dasar kelas tiga pada tahun 1967, ia mulai mengumpulkan naskah Lontara warisan dari kakek-neneknya dari tanah leluhur mereka di Ara, Bulukumba.

Saat ini koleksi manuskrip yang dikumpulkan Lontara yang diklaim sebanyak 20 buah dapat dipertanggungjawabkan keasliannya. Ia mengaku naskah kuno di sana Lontara ata tertua berasal dari abad ke-15, ini tentang 1667.


muhannis dan buku lontara

Lontara KUNO NASKAH. Muhannis menunjukkan manuskrip kuno dari koleksi di kediamannya, Jl Sungai Tangka, Sinjai

"Naskah kuno Lontara tertua koleksi saya berisi pengajaran tentang astronomi," kata pria yang lahir di Ara, Bulukumba 49 tahun yang lalu. Kosmografi bahwa orang-orang Bugis-Makassar yang digunakan di masa lalu untuk mengetahui tanda-tanda ketika musim hujan, musim kemarau atau musim tanam mendatang.

Sumber : http://sinjai-tourism.com/2011/03/23/an-original-manuscript-lontara-from-15th-century/

Selasa, 22 Februari 2011

Pantai Mandala Ria ARA akan dijadikan Obyek Wisata Unggulan


Add caption

Pantai Mandala Ria terletak di Desa Lambanna Ara, Kecamatan Bontobahari, Bulukumba. Dinamakan Mandala Ria karena di tempat inilah Panglima Mandala memesan 24 kapal pendarat dalam rangka pembebasan Irian Jaya dari kolonial Belanda, puluhan tahun silam. (Foto: http://www.bulukumbatourism.com)

---------------------

Pantai Mandala Ria ARA akan dijadikan Obyek Wisata Unggulan

Pantai Mandala Ria terletak di Desa Lambanna Ara, Kecamatan Bontobahari, Bulukumba. Dinamakan Mandala Ria karena di tempat inilah Panglima Mandala memesan 24 kapal pendarat dalam rangka pembebasan Irian Jaya dari kolonial Belanda, puluhan tahun silam.

Selain pantainya yang berpasir putih, terdapat pula tempat-tempat menarik untuk dikunjungi, yakni Goa Passohara yang di dalamnya terdapat sumber mata air. Di tempat ini pula banyak wisatawan melewatkan waktunya untuk berenang.

Tak jauh dari tempat tersebut terdapat pula Goa Passea yang merupakan situs pemakaman. Dalam perjalanan menuju pantai Mandala Ria di sisi kanan kiri jalan, akan terlihat rumah-rumah panggung dengan khas tersendiri di mana anjungan rumah dan lisplan diukir.



Banyak wisatawan yang mengakui keindahan Mandala Ria. Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan pun tak bisa menyembunyikan kekagumannya saat berkunjung ke salah satu objek wisata di Bulukumba itu, Selasa, 22 Februari 2011.

Di hadapan sejumlah pejabat yang menyertainya, antara lain Kepala Bappeda Burhanuddin, Kepala Dinas Bina Marga Syafrullah Arif, Kadis Perikanan dan Kelautan Hasyim, Zainuddin Hasan mengatakan, objek wisata Mandala Ria akan menjadi salah satu kawasan wisata unggulan yang prospektif untuk dikembangkan.

Bupati mengaku terpesona dan baru melihat pemandangan pantai yang begitu indah di Mandala Ria, apalagi di sekelilingnya ditumbuhi hutan yang masih asri.

"Saya baru pertama kali melihat ini, tenyata kita memiliki potensi wisata yang sangat menarik," ujarnya.

Zainuddin baru tiga bulan menjabat Bupati Bulukumba. Sebelumnya, beliau menjabat Bupati Bupati Pahowato, Provinsi Gorontalo, dan hidup dirantauan selama tiga puluh delapan tahun.

Obyek wisata Mandala Ria saat ini sudah masuk dalam salah satu tujuan wisata di Bulukumba. Selain pemandangan alamnya yang menarik, Mandala Ria juga merupakan salah satu objek wisata bersejarah, karena terkait dengan pembebasan Irian Barat.

Di sekitar pantai Mandala Ria juga ada beberapa gua yang diperkirakan sudah berumur ribuan tahun, seperti Gua Jabbolang, dan Guna Passuhara yang di dalamnya terdapat Danau yang menjadi sumber mata air masyarakat setempat.

Bupati Bulukumba berencana membangun infrastruktur jalan dan menata kawasan pantai sehingga bisa dikembangkan ke depan, untuk menjadi salah satu paket Bira-Mandala Ria-Samboang-Dato Tiro dan Amma Towwa Kajang.

"Insya Allah tahun depan ini akan mulai dikerjakan" kata Zainuddin.

Sebelum ke Mandala Ria, Bupati Bulukumba melakukan temu wicara dengan petani rumput laut di Kelurahan Sapolohe Kecamatan Bontobahari dan mengakhiri kunjunganya dengan meninjau proyek Jembatan Basokeng di Kecamatan Bontotiro. 


Sumber : http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/2011/02/mandala-ria-akan-dijadikan-obyek-wisata.html

Senin, 07 Februari 2011

Puisi Konjo Ara (PINISI KALENGKU)

 Oleh : Kamiluddin


titti nurampea ri biringara
battang lopinna sawe' ri gading
akkareso napipahangngiangngi tumariolota
sappungngi nalemba ri kalenna

buku bokona napajjari lunasa
rusu'na jari gading
bukkulenna susung papang
ura'na jari baru'
panjerreki kalabiseang
nanapareka' sumanga'

sapusapunnaji ampanaungi
napa'tantuang poleanna
geo' nia'na anggeokangi sombala'na

ikambe tukang ampa'nassai
sikabusu ri kalengku kabattuannu
ansalipuri-i tallasatta
mana' turiolota
mana'na sawe' ri gading
tu appaia siturungang

Sumber : http://www.facebook.com/groups/syamsulkamri/doc/192027674158271/

Sabtu, 05 Februari 2011

Our Project in Mandala Ria Beach Ara Village of Bulukumba in South Sulawesi Island

Sumber : http://boatbuildingindonesia.com/our-project-in-mandala-ria-beach-ara-village-of-bulukumba-in-south-sulawesi-island.html

PROJECT IN MANDALA RIA BEACH OF ARA VILLAGE – BULUKUMBA SOUTH SULAWESI FOR PASSENGER BOAT.

Sabtu, 29 Januari 2011

Renungan Buat Masyarakat Ara

 Oleh : Sabrang Manurung



Penyebab utama sebagian masyarakat Ara merantau dan bertempat tinggal dirantauannya adalah alasan “Pekerjaan”. Terjadinya hal ini karena lapangan kerja tidak memadai untuk menampung tenaga kerja yang tersedia. Kenyataan yang kita saksikan saat ini bahwa pada umumnya masyarakat Ara menafkahi diri dan keluarga mereka dari hasil bertukang, yang lainnya adalah Pegawai Negeri dan Pedagang, sebagian kecil bertani dan berwira usaha dan sisanya Pegawai Swasta.

Yang mampu bertahan di Kampung halaman adalah mereka yang menjadi Pegawai Negeri (kalau ditempatkan di Desa Ara dan sekitarnya), berdagang dan bertani, sementara yang menukang (membuat perahu Pinisi), berwira usaha dan menjadi karyawan salah satu perusahaan tidak bisa menetap, bahkan ada yang memilih bertempat tinggal di rantauan di tempat mereka bekerja dan berusaha. Hal ini terjadi dimungkinkan karena mereka melihat peluang daerah yang ditempatinya bekerja memiliki prospek yang menjanjikan untuk masa depannya. Kelompok mereka inilah yang dapat memberikan rangsangan kepada keluarganya yang lain untuk pindah dan mengadu nasib bersama-sama di rantauan.

Mengapa hal ini bisa terjadi : “Apakah Desa Ara + Lembanna tidak prospek ?”

Kreatifitas kaum intelektual dan inovasi pemerintahlah dalam mengimlepentasikan pembangunan jawabannya.

mulailah dari diri sendiri membangun kepedulian, karena nuklir yang merupakan partikel terkecil dari unsur alam mampu meratakan bumi...

Sumber : http://www.facebook.com/groups/146232618756841/doc/167858553260914/

Selasa, 25 Januari 2011

BUDAYA ARA YANG MELANGGAR AKIDAH ISLAM

Oleh  
Sabrang Manurung (Nata Mallinrung)
  1. PALANGKA : adalah warisan kepercayaan animisme leluhur. Sebuah bangunan mirip bilik kecil pada umumnya terbuat dari Bambu yang disusun untuk menaruh sesajen, biasanya ditempatkan di atas Para (= bhs. Ara), dipergunakan untuk acara ritual setelah memanen tanaman dan untuk mengobati orang sakit.
  2. PARAU : ratapan berirama mistik sebagai manifestasi kesedihan mendalam saat tertimpa musibah
tabe' Puang...

Sumber : http://www.facebook.com/groups/syamsulkamri/doc/188485734512465/

Minggu, 23 Januari 2011

PUISI Tentang ARA (GERBANG SINGKOLO)

 Oleh : Sabrang Manurung

(Jiwa Kampung Halaman)

gerbang singkolo
simbol legenda tumariolota
pancang prasasti kejayaan
warisan kapanritang

pinisi terwujud di tanganmu
sombala ni ellaella
seluruh celebes
dikenal samudera

di dadamu anak negeri merantau
menitipkannya pada daratan
membekalinya ruh kalabiseang

tapi kini
pancangmu tak terurus
tak jua pupus asa
mengairkan ere lohe, ere keke, ere passohara
menumbuhkan tanaman
menjaga bukit batu
menunggu generasimu
yang sadar pada kepedulian

Sumber : http://www.facebook.com/groups/146232618756841/doc/167319476648155/

Selasa, 07 Desember 2010

Phinisi Nusantara : Buginese Boat Legend when to Northern America



Phinisi Nusantara is a traditional sailboat from Bugis, made by Bugis craftmanship. The sailboat was purposely made to participate in an international exhibition in Vancouver, Canada in 1986.
In the movie Titanic described how technologically advanced steamers in his time was sinking after hitting an iceberg in the middle Atlantic Ocean and claimed many lives. Meanwhile, Phinisi traditional ship passengers who were stranded on the island archipelago Coral Musi, Thousand Islands, on Sunday (15 / 9) all survived. Phinisi has ever managed to cross the Pacific Ocean the plan would bring joy sailing students in Secondary Schools (SMU) as DKI Jakarta recognize the sea. Ship tour on the date of 13 September 2002 even 16-year-old it and will be celebrated at next week stranded in the waters rock carried away by the wind.
Until recently, he was still submerged waiting for help from anyone who cares to him. With a half-hull ship stuck on the reef, deck helter skelter, the front mast (fore sail) screens floating on the water and Jib is torn and the silence in the fog that gripped, This is how the traditional sailing ship which is currently Phinisi Nusantara This is still aground.

Towards VancouverIf we look backward for a moment of history, this vessel successfully make its maiden voyage across the Pacific Ocean toward Vancouver, Canada, July 9, 1986 ago. In the harbor Marine Plaza, Phinisi archipelago was visited by many from the Vancouver community.
Traditional boat is in great demand by visitors for vessel made of wood it bravely crossed the ocean A terrifying Pacific.


At that time, people visit Vancouver to Phinisi archipelago each pretty busy day, an average of about 3,000 people. The peak at 21 September 1986, the ship was visited by approximately 25,000 visitors. Vancuover own community also has a maritime history of the old and continually maintained and diligently, thus, the presence of sailboats like Phinisi archipelago which has an international reputation certainly get a warm welcome.
However, the interest to buy this boat was not great. Even after one week Phinisi Nusantara moored at Marine Plaza, yet there is a bid was coming. Central committee who were in Jakarta, Minister of Finance JB Sumarlin EXPO ’86 as well as the person in charge of Indonesia, took steps to collect the American Oil Consortium in Indonesia for Phinisi buy Archipelago and donated to an agency or marine-related foundations.
Also, at first the ship was also projected to participate in the international arena on the theme of EXPO ’86 “World in Motion, World in Touch” and after attending the show then the ship will be submitted to the Institute of Oceanography, University of California, San Diego (UCSD). But in fact authorized official representing the University, namely Dr. Donald J Raidt not yet willing to sign the script before handover There is no certainty for Phinisi Nusantara renovated first so that they meet U.S. Bureau of Classification Standard (American Bureau of Shipping) and this are constrained by the cost, which is around $ 500,000 U.S..

sumber :